
Akses jalan menuju Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim di Jakarta Timur kembali terendam banjir pada Kamis, 22 Januari 2026, setelah hujan deras melanda Ibu Kota. Genangan air setinggi hingga 70 sentimeter di ruas Jalan DI Panjaitan menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah hingga 2,7 kilometer, menunda perjalanan calon penumpang dan menyoroti kerentanan infrastruktur penghubung fasilitas transportasi vital.
Banjir yang mengganggu konektivitas ke Stasiun Halim ini bukan merupakan insiden pertama. Pada Juli 2025, genangan air setinggi 40-50 sentimeter juga dilaporkan terjadi di sekitar stasiun, memaksa sejumlah penumpang berjalan kaki untuk mencapai kereta cepat. General Manager Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Eva Chairunisa, mengimbau calon penumpang Whoosh untuk mengatur waktu perjalanan lebih awal serta mempertimbangkan penggunaan jalur alternatif guna menghindari keterlambatan akibat genangan air.
KCIC merekomendasikan dua jalur utama sebagai alternatif yang lebih stabil dan tidak terdampak genangan air: pemanfaatan akses keluar Tol Halim dan penggunaan moda transportasi Light Rail Transit (LRT) Jabodebek menuju Stasiun LRT Halim yang terhubung langsung dengan Stasiun Kereta Cepat Whoosh. Selain itu, bagi penumpang yang terlambat, KCIC menyediakan fasilitas penjadwalan ulang perjalanan hingga maksimal 15 menit setelah jadwal keberangkatan tanpa biaya tambahan. KCIC juga menyiagakan petugas tambahan di area stasiun untuk membantu kelancaran pergerakan penumpang dan memastikan keselamatan di tengah kondisi hujan dan permukaan licin. Operasional dan prasarana Whoosh sendiri dikonfirmasi masih dalam kondisi aman dan tidak mengalami keterlambatan, meskipun pembatasan kecepatan akan diterapkan jika hujan tinggi terjadi di jalur demi alasan keselamatan.
Peristiwa berulang ini mengindikasikan adanya tantangan struktural dalam sistem drainase perkotaan Jakarta, khususnya di koridor akses menuju infrastruktur strategis seperti Stasiun Halim. Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, sebelumnya mendesak pemerintah untuk lebih serius dan konsisten dalam upaya mitigasi perubahan iklim, terutama setelah banjir meluas di Pulau Jawa yang berdampak pada setidaknya 137.601 jiwa. Ratna menekankan perlunya penanganan bencana secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, meliputi percepatan pembangunan dan perawatan bendungan serta tanggul, normalisasi sungai, penguatan penghijauan Daerah Aliran Sungai (DAS), perlindungan kawasan resapan air, serta penguatan sistem drainase perkotaan dan teknologi peringatan dini berbasis risiko bencana.
Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta secara berkala melakukan pengerukan dan peremajaan jaringan drainase, peningkatan kapasitas sungai, serta pembangunan dan revitalisasi infrastruktur pengendali banjir seperti waduk, embung, dan saluran drainase untuk meminimalkan genangan air. PT KCIC juga menyatakan telah berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas Stasiun Halim melalui intermoda seperti LRT Jabodebek, Transjakarta, dan akses tol, bahkan dengan rencana pembukaan Gerbang Tol Jakarta-Cikampek KM 0+850 sebagai akses langsung. Namun, genangan air yang terus terjadi pada titik akses vital menunjukkan bahwa upaya mitigasi yang ada belum sepenuhnya menanggulangi dampak curah hujan ekstrem, terutama pada konektivitas jalan arteri di sekitar stasiun. Kondisi ini memerlukan evaluasi komprehensif terhadap perencanaan infrastruktur, kapasitas drainase, dan koordinasi antarlembaga guna menjamin aksesibilitas yang berkelanjutan bagi salah satu proyek strategis nasional tersebut di masa mendatang.