Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

ADRO Melesat 5,5%: Tak Gentar di Tengah Gejolak IHSG

2026-01-13 | 15:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T08:26:42Z
Ruang Iklan

ADRO Melesat 5,5%: Tak Gentar di Tengah Gejolak IHSG

PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan kenaikan saham sebesar 5,5% pada perdagangan hari Senin, 12 Januari 2026, ditutup pada level Rp2.150 per saham, di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung bergejolak. Kenaikan ADRO terjadi saat IHSG sendiri mengalami pelemahan 0,58% menjadi 8.884,72 poin pada penutupan hari yang sama, setelah sempat menguat di awal tahun. Penguatan ADRO menonjol di tengah sektor bahan baku yang memimpin kenaikan IHSG pada pekan lalu, dengan rata-rata kenaikan 2.81%.

Kenaikan signifikan saham ADRO terjadi di tengah sentimen pasar yang bervariasi. Beberapa analis mencatat bahwa pasar saham Indonesia secara keseluruhan masih dalam fase konsolidasi minor meskipun ada potensi pola bullish flag. Namun, IHSG juga menunjukkan volatilitas tinggi dengan mencapai rekor tertinggi baru di 9.002,9 poin pada 8 Januari 2026, sebelum mengalami koreksi. Volatilitas ini sebagian dipicu oleh pergeseran kebijakan moneter global dan sentimen investor yang berhati-hati.

Pendorong utama di balik penguatan ADRO dapat dikaitkan dengan beberapa faktor. Proyeksi harga batu bara termal global diperkirakan akan pulih ke kisaran $117-$121/ton pada tahun 2026-2027 setelah tekanan di tahun 2025, sebelum stabil di sekitar $118-$119/ton hingga 2030. Harga batu bara metalurgi juga diproyeksikan menguat ke $215-$222/ton pada periode yang sama. Pada awal Januari 2026, harga batu bara metalurgi (coking coal) telah menguat menjadi sekitar $223-230 USD/ton, didukung oleh sinyal permintaan baja. Meskipun demikian, pasar batu bara termal menghadapi tantangan dari kelebihan pasokan global dan permintaan yang lesu, dengan harga acuan di bawah $110 USD/ton.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah Indonesia mengenai batu bara menciptakan ketidakpastian. Pemerintah berencana membatasi produksi batu bara di bawah 700 juta ton pada tahun 2026, turun dari target 790 juta ton di tahun 2025. Kebijakan ini, yang bertujuan untuk menyeimbangkan pasar dan merespons penurunan harga ekspor ke Tiongkok dan India, dapat berdampak pada penurunan volume ekspor. Selain itu, ada wacana pengenaan pajak ekspor batu bara yang bisa mulai berlaku Januari 2026, menambah tekanan pada struktur biaya dan keputusan investasi. Namun, Ardhi Ishak, Ketua Divisi Hubungan Industrial Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), menilai bahwa pembatasan produksi ini dapat membantu menstabilkan harga, meskipun kenaikannya kemungkinan moderat.

Proyeksi kinerja ADRO menunjukkan pandangan beragam dari para analis. Beberapa analis Wall Street memperkirakan target harga rata-rata ADRO dalam 12 bulan ke depan sebesar Rp2.371,61, dengan proyeksi tertinggi mencapai Rp3.465. Konsensus rekomendasi untuk ADRO saat ini adalah "Buy" dari 17 analis. Namun, ada juga pandangan netral dengan kemungkinan kerugian 34,79% hingga April 2026. Phintraco Sekuritas merekomendasikan "BUY" untuk ADRO dengan target harga Rp2.140 per saham per Desember 2025.

Untuk IHSG, HSBC Global Research memproyeksikan indeks dapat menguat hingga 9.700 pada tahun 2026, didorong oleh valuasi yang rendah dan potensi pemulihan siklus pertumbuhan serta pendapatan di Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan optimistis IHSG dapat mencapai lebih dari 10.000 pada akhir 2026, seiring dengan kebijakan pemerintah yang semakin sinkron dan prospek ekonomi yang lebih baik. Namun, Deni Friawan, peneliti senior di Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperingatkan adanya risiko "bubble" di balik penguatan IHSG saat ini, karena kenaikan harga saham tidak selalu sejalan dengan fundamental perusahaan.

Ke depan, prospek ADRO akan sangat bergantung pada dinamika harga batu bara global, konsistensi kebijakan pemerintah terkait produksi dan ekspor, serta strategi diversifikasi perusahaan ke sektor energi terbarukan. ADRO sendiri sedang dalam fase transisi, dengan pendapatan FY2025 diproyeksikan mencapai US$1,96 miliar (-5,9% YoY), mencerminkan fase normalisasi setelah tekanan di tahun 2024 akibat melemahnya harga batu bara. Sementara itu, IHSG diperkirakan akan menghadapi volatilitas yang tetap tinggi di tahun 2026, dengan selektivitas saham menjadi semakin penting. Meskipun ada ekspektasi pemotongan suku bunga global dan kebijakan moneter yang mendukung, risiko eksternal seperti ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia tetap menjadi tantangan.