Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Strategi Investasi: Proyeksi IHSG dan Saham Pilihan Unggulan 30 Desember 2025

2025-12-30 | 09:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T02:40:22Z
Ruang Iklan

Strategi Investasi: Proyeksi IHSG dan Saham Pilihan Unggulan 30 Desember 2025

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan akan menghadapi pergerakan bervariasi cenderung menguat pada perdagangan terakhir tahun 2025, Selasa, 30 Desember 2025, ditopang oleh sentimen positif aliran dana asing yang signifikan meskipun pasar global diwarnai aksi ambil untung di saham teknologi. Indeks dibuka melemah 16,85 poin atau 0,20 persen ke posisi 8.627,40 hari ini, menyusul penutupan menguat 1,25 persen ke level 8.644,26 pada perdagangan Senin (29/12).

Sentimen yang bervariasi terlihat dari analisis sejumlah sekuritas. Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level resistansi di 8.670-8.725, selama indeks bertahan di atas level 8.630, didukung oleh indikator teknikal seperti Stochastic RSI yang membentuk Golden Cross di area oversold dan penyempitan negative slope MACD. Penguatan ini juga ditopang oleh volume beli yang meningkat serta penutupan di atas MA5 dan MA20. Di sisi lain, CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak bervariasi cenderung melemah pada kisaran support 8.562-8.475 dan resistansi 8.730-8.811. Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, bahkan menyebut IHSG masih rawan terkoreksi untuk menguji 8.464-8.493, dengan skenario terburuk potensi koreksi cukup dalam ke area 8.000-an. Kondisi ini mencerminkan dinamika akhir tahun di mana likuiditas pasar cenderung minim, mendorong pergerakan konsolidatif meskipun terdapat peluang penguatan terbatas dan selektif.

Kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global. Kapitalisasi pasar saham mencatatkan rekor baru mencapai Rp13.701 triliun pada 29 Juli 2025, dengan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp13,56 triliun. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tercatat 5,04 persen secara tahunan, ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga yang didorong oleh belanja masyarakat menjelang akhir tahun dan stabilnya harga kebutuhan pokok. Untuk keseluruhan tahun 2025, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia di kisaran 4,7-5,5 persen dan pandangan sejumlah ekonom di sekitar 5,0-5,1 persen. Inflasi tahunan menjelang akhir 2025 juga relatif terkendali, berada di kisaran 2,8-3,0 persen, masih dalam target Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Namun, sentimen global memberikan tekanan. Mayoritas indeks Wall Street terkoreksi akibat aksi ambil untung investor pada saham-saham teknologi menjelang akhir tahun, setelah pasar mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan sebelumnya. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih berlanjut, ditutup pada level Rp16.788 per dolar AS pada Senin (29/12), juga menjadi katalis negatif. Investor global akan mencermati risalah rapat kebijakan The Fed bulan Desember untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan bank sentral AS menjelang 2026.

Aktivitas investor asing menjadi sorotan utama. Pada perdagangan Senin (29/12), investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp1,03 triliun di pasar reguler dan mencapai Rp2,24 triliun di seluruh pasar, menunjukkan kepercayaan terhadap pasar domestik. Aksi beli ini terkonsentrasi pada saham-saham konglomerasi seperti DEWA, ANTM, MDKA, ADMR, hingga ADRO. Meskipun demikian, secara kumulatif sepanjang tahun 2025 hingga 24 Desember, investor asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp18,36 triliun.

Untuk perdagangan 30 Desember 2025, sejumlah sekuritas merekomendasikan saham pilihan. Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi MEDC, ENRG, RAJA, PTRO, TLKM, dan MBMA untuk tujuan trading. Sementara itu, Samuel Sekuritas memilih ARTO, GOTO, SUPA, BUMI, WIFI, dan LEAD sebagai speculative buy. MNC Sekuritas merekomendasikan Buy on Weakness untuk BBCA, serta Speculative Buy untuk ESSA dan HRUM. BRI Danareksa Sekuritas menyarankan beli saham BUMI, GPRA, dan TUGU. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova merekomendasikan Buy on Weakness untuk PTBA dan Trading Buy untuk UNVR. Sucor Sekuritas juga merekomendasikan Buy untuk ACES.

Menjelang tahun 2026, investor akan memantau sejumlah data ekonomi domestik seperti Indeks S&P Global Manufacturing PMI bulan Desember 2025 yang diperkirakan sedikit naik ke level 53,6 dari 53,3 di November 2025, serta inflasi Desember yang diproyeksikan 0,2 persen month-to-month (mtm) atau 2,5 persen year-on-year (yoy). Inflasi inti diperkirakan melandai menjadi 2,2 persen yoy dari 2,36 persen yoy. Data-data ini akan menjadi penentu sentimen pasar di awal tahun, memberikan gambaran lebih jelas mengenai prospek ekonomi Indonesia setelah periode akhir tahun yang penuh dinamika.