
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Petrogas (Basin) Ltd. secara resmi memulai proyek percontohan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Walio, Wilayah Kerja Kepala Burung, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, pada Selasa, 30 Desember 2025. Inisiatif ini menandai upaya signifikan pemerintah Indonesia untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan minyak yang telah menua dan krusial dalam mencapai target produksi minyak nasional 1 juta barel per hari pada tahun 2030.
Proyek percontohan CEOR Walio melibatkan injeksi perdana bahan kimia ke dalam reservoir Lapangan Walio, sebuah formasi karbonat Kais yang telah berproduksi lebih dari empat dekade dan merupakan sumber minyak utama di Wilayah Kerja Kepala Burung. Metode ini bertujuan untuk mendorong sisa minyak yang terperangkap dalam pori-pori batuan agar dapat mengalir dan diproduksikan, memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada untuk efisiensi operasional. Proyek ini merupakan bagian integral dari pemenuhan Komitmen Kerja Pasti (KKP) Wilayah Kerja Kepala Burung dan, jika berhasil, akan diperluas ke tahap pengembangan skala komersial. Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyatakan bahwa injeksi perdana ini merupakan "tonggak penting" dalam rencana pengembangan CEOR Lapangan Walio. Rikky juga menekankan bahwa lokasi terpencil bukan menjadi hambatan dengan adanya komitmen dan kerja keras.
Lapangan Walio memiliki signifikansi historis sebagai lapangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di wilayah timur Indonesia. Lapangan ini berlokasi strategis sekitar 3 kilometer dari Kasim Marine Terminal. Produksi minyak nasional Indonesia telah menghadapi tantangan serius akibat penurunan alami dari lapangan-lapangan tua. Data menunjukkan bahwa produksi minyak Indonesia terus menurun dari sekitar 1,5 juta barel per hari pada awal tahun 2000-an menjadi sekitar 600 ribu barel per hari pada periode 2022-2023. Sekitar 70% dari sumur minyak di Indonesia saat ini dikategorikan sebagai sumur tua.
Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) menjadi strategi vital untuk mengatasi tantangan tersebut. Keberhasilan EOR telah terbukti di lapangan lain seperti Lapangan Duri yang menggunakan injeksi uap (steam flood EOR) dan mampu meningkatkan produksi dari 60-70 ribu barel per hari menjadi lebih dari 300 ribu barel per hari pada puncaknya. Baru-baru ini, Pertamina Hulu Rokan (PHR) juga memulai proyek CEOR skala komersial di Lapangan Minas, yang diperkirakan akan menyumbang sekitar 70 ribu barel per hari pada tahun 2030 dan mencapai puncak 200 ribu barel per hari pada tahun 2036. Investasi untuk EOR memang masif; PT Pertamina Hulu Energi (PHE) membutuhkan sekitar US$47 miliar atau setara Rp789,4 triliun dalam lima tahun ke depan untuk berbagai peningkatan produksi, termasuk CEOR.
Proyek CEOR Walio dirancang dengan pola injeksi lima titik, terdiri dari satu sumur injeksi dan empat sumur produksi, dan diperkirakan akan berlangsung selama 30 hingga 35 bulan untuk evaluasi teknis. President RH Petrogas Companies in Indonesia, Ferry Hakim, menyatakan bahwa keberhasilan proyek ini akan membuka peluang besar bagi Petrogas untuk mengembangkan CEOR di area yang lebih luas, memperkuat rencana jangka panjang peningkatan produksi minyak, dan memaksimalkan perolehan minyak.
Namun, implementasi teknologi EOR, termasuk CEOR, tidak lepas dari tantangan. Kompleksitas geologi reservoir yang heterogen memerlukan penyesuaian metode yang tepat. Selain itu, teknologi canggih dan keahlian tenaga ahli merupakan faktor penentu keberhasilan. Aspek lingkungan juga menjadi perhatian, mengingat potensi dampak berupa emisi udara, air buangan, tumpahan bahan kimia, dan kebisingan selama operasi. Pemantauan integritas peralatan dan dampak lingkungan menjadi krusial dalam setiap tahapan proyek.
Di tingkat nasional, pemerintah menargetkan produksi minyak sebesar 610 ribu barel per hari dalam APBN 2026, meningkat dari 605 ribu barel per hari pada 2025. Untuk mencapai target ambisius 1 juta barel per hari pada 2030, produksi minyak nasional harus meningkat rata-rata 100 ribu barel per hari setiap tahun, dengan kebutuhan investasi sekitar US$20 miliar per tahun di sektor hulu migas. Proyek-proyek seperti CEOR Walio menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ini, menunjukkan bahwa inovasi teknologi merupakan kunci untuk memperlambat laju penurunan produksi, menambah cadangan baru, dan memperpanjang usia produktif lapangan-lapangan tua di Indonesia. Keberhasilan pilot project ini diharapkan tidak hanya meningkatkan profit bagi Petrogas dan penerimaan negara, tetapi juga menggerakkan industri dan jasa pendukung di sektor hulu migas, serta menjadi inspirasi bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lainnya.