
Indonesia telah mengamankan pinjaman senilai 4,98 triliun Rupiah dari Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk membiayai pembangunan jalan yang tangguh terhadap bencana alam. Dana ini setara dengan 300 juta Dolar Amerika Serikat, berdasarkan kurs 16.611 Rupiah per Dolar AS. Pinjaman tersebut secara khusus ditujukan untuk pembangunan sekitar 72 kilometer jalan tangguh bencana di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.
Menurut Bobur Alimov, Direktur ADB untuk Indonesia, proyek jalan ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan mendorong perkembangan ekonomi di wilayah selatan Pulau Jawa. Proyek yang dikenal sebagai "Jalan Trans Jawa Selatan-Selatan" ini akan mengatasi kesenjangan infrastruktur penting antara koridor utara Jawa yang sudah maju dengan wilayah selatan Jawa.
Pembangunan jalan ini mencakup peningkatan jalan tanah sempit yang sudah ada dan menghubungkannya secara keseluruhan. Sebagai contoh, waktu tempuh dari daerah pertanian di pedesaan Kabupaten Jember menuju Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur yang saat ini memakan waktu delapan jam, diperkirakan akan terpangkas sekitar dua jam dengan adanya jalan baru ini. Jalan baru ini juga diharapkan dapat menghubungkan masyarakat di kedua daerah tersebut dengan pusat ekonomi dan pasar, sekaligus meningkatkan akses terhadap layanan, pendidikan, dan peluang ekonomi.
Aspek ketahanan bencana menjadi fokus utama proyek ini. Jalan-jalan tersebut akan menggabungkan desain tangguh iklim dan solusi bio-rekayasa guna memastikan infrastruktur mampu bertahan menghadapi peristiwa cuaca ekstrem. Langkah-langkah adaptasi perubahan iklim yang diimplementasikan meliputi peningkatan kapasitas struktur hidrolis untuk mitigasi risiko banjir, perlindungan lereng melalui bio-rekayasa dengan menggunakan solusi berbasis alam, serta pembangunan jembatan tangguh iklim untuk menyediakan akses alternatif selama peristiwa cuaca ekstrem. Inisiatif ini selaras dengan komitmen iklim Indonesia di bawah Kesepakatan Paris.