
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, akan mengadakan pertemuan penting pada Selasa pekan depan untuk memfinalisasi studi kelayakan (feasibility study/FS) 18 proyek hilirisasi. Pertemuan ini juga akan melibatkan Sekretariat Kabinet untuk membahas percepatan pelaksanaan proyek-proyek strategis tersebut. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, menyatakan bahwa agenda utama pertemuan adalah meninjau perkembangan terbaru FS yang telah dikerjakan Danantara dan mengidentifikasi langkah-langkah untuk mempercepat implementasinya.
Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan agar studi kelayakan proyek-proyek ini dapat diselesaikan pada Desember 2025, sehingga pengerjaan beberapa proyek dapat segera dimulai. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Hilirisasi, sebelumnya telah menyerahkan 18 dokumen pra-studi kelayakan (pra-FS) proyek-proyek ini kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani. Danantara telah menerima dokumen pra-FS tersebut dan menargetkan kajian kelayakan rampung pada awal Desember 2025.
Total nilai investasi untuk ke-18 proyek hilirisasi ini mencapai Rp 618 triliun atau sekitar USD 38,63 miliar, yang akan dibiayai oleh BPI Danantara. Danantara, sebagai dana abadi nasional, menegaskan kesiapan pendanaan dengan rating Triple A dari Pefindo dan Fitch, serta komitmen untuk mengeksekusi proyek secara bertahap, memprioritaskan yang paling siap dari segi pendanaan, legalitas, administrasi, dan teknologi. Proyek-proyek ini ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026.
Ke-18 proyek tersebut mencakup beragam sektor strategis. Mayoritas, yakni delapan proyek, berada di sektor mineral dan batu bara. Dua proyek fokus pada ketahanan energi, tiga proyek pada hilirisasi pertanian, dua proyek pada transisi energi, dan tiga proyek pada hilirisasi kelautan dan perikanan. Beberapa proyek spesifik yang disebutkan dalam konteks inisiatif hilirisasi Danantara meliputi industri Cooper Rod, Wire & Tube (katoda tembaga) di Gresik, Jawa Timur dengan nilai investasi Rp 19,2 triliun, industri Besi Baja (pasir besi) di Kabupaten Sarmi, Papua dengan investasi Rp 19 triliun, industri Chemical Grade Alumina (bauksit) di Kendawangan, Kalimantan Barat senilai Rp 17,3 triliun, dan industri Olresin (pala) di Kabupaten Fakfak, Papua Barat senilai Rp 1,8 triliun.
Fokus utama dari proyek-proyek ini juga mencakup pembangunan ekosistem baterai dan mobil listrik yang terintegrasi, serta pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG impor. Menteri Bahlil Lahadalia menekankan bahwa percepatan hilirisasi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus meningkat. Proyek-proyek ini diperkirakan akan menciptakan hampir 300.000 lapangan kerja langsung dan jutaan pekerjaan tidak langsung, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemandirian nasional. Danantara telah berkomitmen untuk hanya mendanai proyek yang memiliki kelayakan investasi yang jelas dan dampak ekonomi yang terukur, sejalan dengan mandat ganda mereka untuk mencari keuntungan komersial dan memberikan manfaat sosial.