:strip_icc()/kly-media-production/medias/1401511/original/009072700_1478763262-20161110-Hari-ini-IHSG-di-buka-menguat-di-level-5.444_04-AY2.jpg)
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan pembukaan perdagangan perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2026 pada Jumat, 2 Januari 2026, di Main Hall Gedung BEI, Jakarta, menandai dimulainya babak baru pasar modal di bawah kepemimpinannya. Kehadiran langsung kepala negara ini dipandang sebagai sinyal kuat komitmen pemerintah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor keuangan.
Meskipun seremoni pembukaan perdagangan bursa oleh presiden merupakan tradisi tahunan yang menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pasar modal, sinyal kali ini memiliki bobot tersendiri mengingat rekam jejak pemerintahan baru. Pada pembukaan perdagangan BEI tahun 2025, Presiden Prabowo diketahui batal hadir dan digantikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang memicu beragam interpretasi di kalangan pelaku pasar. Kehadiran Prabowo tahun ini diharapkan dapat meredakan spekulasi sebelumnya dan memperkuat kepercayaan investor. Tradisi serupa pernah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo yang meresmikan pembukaan perdagangan BEI tahun 2023, menekankan optimisme di tengah ketidakpastian ekonomi global. Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga pernah membuka perdagangan perdana di tahun 2024, menyerukan inovasi teknologi dan peningkatan literasi pasar modal.
Prospek pasar saham Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan optimistis. Sejumlah analis memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mencapai level baru, didorong oleh fundamental yang membaik dan sentimen positif investor. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG dapat menyentuh 9.440 pada akhir 2026, sejalan dengan perkiraan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8% secara tahunan. Sementara itu, BNI Sekuritas menargetkan IHSG di level 9.100, didukung oleh prospek penurunan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia, serta pelemahan struktural dolar Amerika Serikat yang mendorong aliran dana ke pasar berkembang. Kiwoom Sekuritas bahkan memprediksi IHSG berpeluang mencapai 10.000 hingga 10.200 jika tren positif ini berlanjut. Optimisme ini juga didukung oleh pengamat pasar modal Reydi Octa yang melihat peluang IHSG tembus 9.000, dengan syarat utama adanya pemangkasan suku bunga global dan domestik, penguatan nilai tukar Rupiah, serta arus masuk dana asing.
Pemerintahan Presiden Prabowo dikenal dengan kebijakan ekonominya yang condong pada akselerasi pertumbuhan, didukung oleh ekspansi fiskal, penurunan suku bunga Bank Indonesia, dan injeksi likuiditas, yang telah menumbuhkan optimisme pasar. Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menilai arah kebijakan ini semakin jelas setelah perombakan kabinet, dengan penunjukan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memperkuat arah kebijakan fiskal ekspansif. Sektor-sektor yang diperkirakan akan menjadi pendorong utama di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran termasuk konsumsi primer, properti, dan pertambangan logam. Program seperti makan bergizi gratis diperkirakan akan mendorong pertumbuhan sektor konsumsi, sementara kelanjutan pembangunan infrastruktur dan program sejuta rumah akan menguntungkan sektor properti.
Pasar modal Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga Agustus 2025, IHSG telah tumbuh 8,2% dengan lebih dari 900 emiten tercatat. Jumlah investor pasar modal juga terus mencetak rekor, mencapai 17 juta Single Investor Identification (SID) pada Juli 2025, melampaui target 2 juta investor baru BEI untuk tahun 2025. Menariknya, 55% investor di bursa saat ini adalah generasi muda di bawah 30 tahun, dan 70% di bawah 40 tahun, menunjukkan prospek pasar modal yang menjanjikan di masa depan. Kapitalisasi pasar modal Indonesia pada tahun 2022 juga tumbuh 15% hingga mencapai Rp9.499 triliun.
Namun, tantangan tetap ada. Di awal masa pemerintahannya, terdapat reaksi beragam dari pelaku pasar, termasuk koreksi IHSG yang signifikan pada Maret 2025. Pernyataan Presiden Prabowo mengenai saham yang sempat menuai kritik dari ekonom Achmad Nur Hidayat karena dianggap tidak memprioritaskan pasar modal, menjadi catatan penting. Selain itu, analisis terhadap reaksi pasar modal setelah pelantikan Presiden Prabowo-Gibran menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada abnormal return rata-rata, namun terdapat perbedaan signifikan pada aktivitas volume perdagangan, mengindikasikan ketidakpastian, ekspektasi kebijakan baru, atau tindakan spekulatif. Pemerintahan juga dihadapkan pada upaya efisiensi anggaran di beberapa kementerian/lembaga yang berpotensi berdampak pada sejumlah saham. Meskipun demikian, studi terbaru dari NEXT Indonesia Center pada Oktober 2025 mencatat bahwa setahun kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia menempati posisi teratas di Asia Tenggara dalam kapitalisasi pasar modal.