
PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT PAL Indonesia secara resmi memperkuat sinergi strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Rabu, 24 Desember 2025, di Surabaya. Kesepakatan ini menargetkan peningkatan kemandirian industri maritim nasional melalui kolaborasi dalam pembangunan, konversi, modifikasi, dan pemeliharaan kapal, serta pengembangan kapabilitas industri dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari penjajakan yang telah dirintis sejak pertengahan tahun, diawali dengan peninjauan fasilitas produksi PT PAL Indonesia pada 18 Juni 2025. Plt CEO PIS, Surya Tri Harto, menyatakan bahwa penguatan armada dan layanan merupakan kebutuhan vital PIS untuk menjawab tantangan energi nasional dan global, termasuk revitalisasi serta pembangunan kapal-kapal baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, yang turut menyaksikan penandatanganan, menegaskan bahwa kerja sama ini adalah langkah awal positif dalam transformasi industri energi nasional.
Peningkatan kapabilitas SDM menjadi salah satu fokus utama, sejalan dengan kebutuhan industri maritim nasional yang terus meningkat. Ketua Umum Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami, pada April 2024, menyoroti kurangnya kaderisasi SDM di sektor perkapalan, khususnya untuk reparasi kapal yang permintaannya terus bertumbuh. Kementerian Perhubungan juga mencatat bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi maritim yang besar, kebutuhan pelaut masih tinggi, dengan target penyerapan 500.000 SDM pelaut dalam setahun untuk mengisi kekurangan dan meningkatkan devisa negara.
CEO PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menekankan bahwa ketergantungan pada luar negeri harus diakhiri dengan mengoptimalkan produk dalam negeri. Sinergi ini diharapkan menjadi "tangga pertama" untuk menghidupkan industri maritim secara menyeluruh, menciptakan pasar potensial, dan memberikan efek berganda bagi ekosistem industri maritim Indonesia. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza sebelumnya mengungkapkan bahwa industri galangan kapal nasional memiliki 342 galangan aktif dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta deadweight tonnage (DWT) per tahun untuk bangunan baru dan 12 juta DWT per tahun untuk reparasi, namun utilisasinya baru sekitar 30%. Tingkat kandungan lokal (TKDN) pada industri komponen kapal masih rendah, sekitar 30%, menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
PIS sendiri, sebagai Subholding Integrated Marine Logistics (SH IML) Pertamina, mengoperasikan sekitar 750 kapal, dengan 111 unit di antaranya adalah kapal milik sendiri, melayani 65 rute internasional pada tahun 2024. Perusahaan mencatat pendapatan sebesar US$3,48 miliar pada tahun 2024, meningkat 4,48% dari tahun sebelumnya, dengan laba melonjak 69,31% menjadi US$558,6 juta. PIS juga proaktif dalam program dekarbonisasi, menekan emisi karbon sebesar 51.090 ton CO2e pada tahun 2024, melebihi target 146,4%, melalui 111 program pengurangan emisi, termasuk penggunaan kapal dual-fuel dan optimasi kecepatan. Hingga 2025, PIS menargetkan memiliki 130 unit armada kapal tanker.
Melalui kolaborasi ini, kedua BUMN tersebut berupaya memperkuat ekosistem pelayaran nasional, meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara maritim, dan mendukung transisi energi yang berkelanjutan. Integrasi kapabilitas PT PAL dalam pembangunan dan pemeliharaan kapal dengan kebutuhan armada PIS diharapkan menciptakan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional dan mengurangi ketergantungan pada galangan kapal asing.