:strip_icc()/kly-media-production/medias/4277611/original/083761300_1672400408-Penutupan_Perdagangan_Bursa_Efek_Indonesia_2022-Angga.jpg)
Investor asing secara signifikan melepas kepemilikan saham mereka di pasar modal Indonesia dengan nilai jual bersih mencapai Rp 18,36 triliun sepanjang tahun 2025 hingga periode 24 Desember. Aksi divestasi modal asing ini terjadi di tengah gejolak global dan dinamika domestik, namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan substansial 20,59 persen secara year-to-date (YTD) menuju level 8.537,911 pada penutupan perdagangan 24 Desember 2025, yang menempatkan kinerja pasar saham Indonesia di posisi ketiga terbaik di kawasan ASEAN dan ketujuh di Asia Pasifik.
Jumlah jual bersih sepanjang 2025 ini menandai pembalikan arah yang mencolok dibandingkan dengan tahun 2024, di mana investor asing membukukan beli bersih sekitar Rp 15,97 triliun. Meskipun arus keluar modal asing dominan sepanjang sebagian besar tahun ini, pasar saham domestik menunjukkan ketahanan luar biasa yang ditopang oleh kekuatan investor ritel. Kontribusi investor domestik stabil di angka 64 persen sepanjang 2025, jauh meninggalkan investor asing yang berkontribusi rata-rata 36 persen, menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia kini memiliki penopang likuiditas yang kuat dari dalam negeri.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menjelaskan, aksi jual asing sepanjang 2025 menjadi faktor dominan yang menghambat kenaikan IHSG. Ia mengidentifikasi "perang tarif dan konflik geopolitik" sebagai pemicu sikap tunggu dan lihat (wait and see) investor, ditambah dengan proyeksi suku bunga yang cenderung bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) pada awal tahun. Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, menambahkan bahwa investor asing juga mengambil keuntungan di pasar surat utang pemerintah (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di pertengahan tahun, memanfaatkan apresiasi rupiah dan kenaikan harga seiring dengan pemangkasan suku bunga. Pasar obligasi menjadi cukup mahal sehingga minat asing untuk kembali terbatas, sementara pasar saham masih dianggap riskan karena pertumbuhan ekonomi domestik yang melemah dan sentimen negatif eksternal.
Pada awal tahun, tepatnya Maret 2025, Guru Besar dan ekonom senior Indef Didik J. Rachbini menilai kondisi pasar modal Indonesia yang merosot disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik pada pemerintahan baru, di mana pasar menolak politik ekonomi dan kebijakan yang dilakukan. Aksi demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025 juga meningkatkan persepsi risiko dan potensi arus keluar dana asing, menurut Ekonom PT Panin Sekuritas Felix Darmawan.
Namun, menjelang penghujung 2025, terjadi pergeseran tren. Investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham, mencatatkan beli bersih sebesar Rp 11,13 triliun sepanjang Desember 2025, dengan Rp 2,45 triliun di antaranya tercatat pada periode 22-24 Desember. Bank Indonesia (BI) juga melaporkan beli neto sebesar Rp 3,98 triliun di pasar keuangan domestik pada 22-23 Desember 2025, termasuk Rp 1,59 triliun di pasar saham.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia tidak seharusnya mendewakan peran investor asing dalam pembangunan. Menurutnya, motivasi investor asing adalah memanfaatkan potensi pertumbuhan ekonomi demi keuntungan mereka sendiri, bukan untuk membangun negara. Purbaya menyatakan pemerintah akan lebih selektif dalam mencari investor yang mampu memberikan nilai tambah spesifik, terutama dalam transfer teknologi. Ia mengakui bahwa kebijakan yang memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik untuk menjaga stabilitas pada periode tertentu di 2025 turut memengaruhi realisasi Foreign Direct Investment (FDI), tetapi optimis sinyal kebijakan pro-pertumbuhan ke depan akan menarik kepercayaan investor.
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menegaskan komitmen kuat Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan melanjutkan reformasi pro-investasi. Pemerintah bertekad menjadikan Indonesia mitra utama dan terpercaya bagi investor global, dengan fokus pada hilirisasi mineral, pengembangan energi terbarukan, ekonomi digital, dan manufaktur bernilai tambah.
Ke depan, prospek investasi asing di Indonesia diperkirakan membaik pada 2026. Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, memproyeksikan FDI akan meningkat setelah mengalami kontraksi pada 2025, dengan syarat iklim investasi diperbaiki melalui kepastian regulasi, eksekusi yang tepat waktu, dan peningkatan daya saing. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 2.175,26 triliun pada 2026, meningkat 14,2 persen dari proyeksi 2025. Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga akan fokus berinvestasi pada delapan sektor prioritas, termasuk mineral dan energi baru terbarukan, untuk mendukung transformasi fundamental ekonomi nasional. Dengan proyeksi pelonggaran kebijakan moneter global dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter yang solid di domestik, pasar keuangan Indonesia pada 2026 diperkirakan lebih kondusif, meskipun The Fed diproyeksikan hanya melakukan satu kali pemangkasan suku bunga pada tahun tersebut.