
Sejumlah ruas jalan tol di Sumatera yang terdampak banjir dan longsor ditargetkan dapat beroperasi normal sepenuhnya pada 16 Desember 2025. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) memastikan pemulihan infrastruktur vital ini untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas menjelang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Salah satu ruas tol yang menjadi fokus utama perbaikan adalah Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT), khususnya di KM 41+600 arah Medan, yang mengalami ambles pada oprit jembatan. Kerusakan ini dipicu oleh curah hujan ekstrem akibat Badai Siklon Senyar di wilayah Medan, yang menyebabkan banjir pada sungai sekitar jalan tol dan memengaruhi kestabilan tanah. Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyatakan komitmen percepatan perbaikan di titik ini. PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) selaku anak usaha Jasa Marga, menargetkan jalur arah Tebing Tinggi dapat dibuka pada 3 Desember 2025, sementara satu lajur arah Medan diharapkan bisa dilalui pada 4 Desember 2025, sebelum sepenuhnya normal pada 16 Desember 2025. Perbaikan dilakukan secara paralel di kedua jalur, meliputi pemulihan struktur perkerasan jalan, pemancangan sheet pile untuk perkuatan, serta penghamparan base A (lapisan batu yang dipadatkan sebagai dasar perkerasan jalan). Rekayasa lalu lintas juga diterapkan, dengan pengalihan kendaraan di Gerbang Tol (GT) Kemiri, GT Kualanamu, GT Lubuk Pakam, dan GT Tanjung Morawa.
Selain Tol MKTT, PT Hutama Karya (Persero) juga melakukan penanganan tanggap darurat pada ruas Tol Trans Sumatera (JTTS) lainnya yang terdampak. Ruas Tol Binjai-Langsa, terutama di segmen Kuala Bingai-Tanjung Pura, sempat tergenang air setinggi 40-60 cm dan mengalami gerusan tanah di beberapa titik seperti KM 49+800, KM 50+800, KM 52+600, dan KM 53+400 di kedua jalur. Segmen Binjai-Pangkalan Brandan juga terdampak di beberapa kilometer. Sementara itu, Tol Padang-Sicincin mengalami genangan sesaat dan gerusan tanah di KM 8+800. Ruas Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh) juga menghadapi longsoran lereng dan gerusan di dekat Gerbang Tol Jantho KM 1+400, namun secara umum masih beroperasi normal dengan peningkatan pengawasan.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pembukaan akses transportasi darat menjadi prioritas utama pemerintah untuk memastikan distribusi logistik dan mobilitas masyarakat tidak terhambat. Kementerian PU telah mengerahkan dan mengalihkan alat berat dari sejumlah proyek infrastruktur ke titik-titik longsor dan banjir di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Penanganan darurat dilaksanakan selama 24 jam penuh di seluruh titik terdampak, dengan kolaborasi antara petugas PU, TNI, Polri, Basarnas, BNPB, dan Pertamina. Berdasarkan identifikasi Balai Teknis Kementerian PU hingga 2 Desember 2025, tercatat 253 titik longsor dan 86 titik banjir yang merusak jalan nasional di tiga provinsi tersebut, serta berdampak pada 35 ruas jalan nasional dan 14 jembatan di Aceh, serta 25 ruas jalan dan 4 jembatan nasional di Sumatera Utara. Selain jalan tol, 16 ruas jalan provinsi di Sumatera Barat juga terdampak bencana hidrometeorologi dengan 54 titik permasalahan. Penanganan jalur kereta api lintas Medan-Binjai dan Aceh Utara yang juga putus akibat bencana hidrometeorologi turut dipercepat.
Jasa Marga dan Hutama Karya, sebagai operator jalan tol, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna jalan selama proses perbaikan dan rekayasa lalu lintas berlangsung. Pengguna jalan diimbau untuk tetap berhati-hati, mengatur waktu dan rute perjalanan, memastikan kecukupan bahan bakar, serta mematuhi rambu dan arahan petugas di lapangan.