
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan signifikan pada pertengahan sesi perdagangan, bertengger di level 5.300 sebelum jeda siang. Pergerakan positif ini didorong oleh sejumlah sentimen domestik dan global yang memberikan optimisme di kalangan pelaku pasar.
Salah satu pendorong utama penguatan IHSG hingga menyentuh level 5.300 pada periode sebelumnya adalah sentimen positif dari perombakan kabinet, khususnya penunjukan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan. Penunjukan ini disambut baik oleh pasar, mengingat rekam jejak dan kompetensi beliau di bidang ekonomi moneter. Analis pasar bahkan mengidentifikasi adanya 'efek Sri Mulyani' yang memberikan dorongan kuat bagi pasar keuangan.
Selain faktor domestik, respons positif pasar terhadap kebijakan paket ekonomi jilid ke-13 yang diluncurkan pemerintah juga turut menjadi penopang. Penurunan harga minyak dunia pada saat itu juga berkontribusi pada sentimen positif di bursa saham. Para analis memproyeksikan bahwa tren positif IHSG berpotensi berlanjut, bahkan menuju level 5.500, dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat diperkirakan menguat hingga Rp12.800 per US$1 di akhir tahun. Hal ini mengindikasikan kepercayaan terhadap reformasi ekonomi moneter dan fiskal yang dianggap memadai dengan kepemimpinan Sri Mulyani.
Pada kesempatan lain, bursa saham domestik juga pernah berpotensi menguji level 5.300, seperti yang terlihat pada perdagangan tanggal 25 Agustus 2020, di mana IHSG menguat 0,08% ke posisi 5.277,04 poin dengan nilai transaksi harian mencapai Rp9,30 triliun. Saat itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada perkembangan global, termasuk tanggapan Gubernur The Fed mengenai perekonomian Amerika Serikat.
Sebelumnya, pada Februari 2015, IHSG juga sempat melaju di atas level psikologis 5.300, dibuka menguat ke posisi 5.315,45 dan terus bertambah menjadi 5.331,51. Penguatan ini didorong oleh sentimen positif eksternal, seperti kenaikan harga minyak dan penguatan indeks saham di Amerika Serikat serta Asia. Analis memprediksi bahwa IHSG berpotensi melanjutkan kenaikannya dengan pergerakan di kisaran support 5.252 dan resistance 5.325.
Namun, level 5.300 juga pernah menjadi titik rawan. Pada Mei 2015, IHSG sempat merosot ke bawah level 5.300 di tengah aksi ambil untung (profit taking) dan sentimen negatif eksternal. Sentimen negatif ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang merespons data ekonomi AS yang mengindikasikan pemulihan positif, yang pada gilirannya dapat mempercepat kenaikan tingkat bunga di AS. Pasar cenderung menghindari aset berisiko dalam kondisi tersebut. Meskipun demikian, indeks berhasil menipiskan kerugian dan kembali ke atas level 5.300.
Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri pernah memprediksikan IHSG dapat mencapai level 5.300 hingga akhir tahun 2016, melebihi prediksi awal 5.200. Peningkatan prediksi ini didukung oleh kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) oleh pemerintah, dengan harapan dana repatriasi akan masuk ke pasar modal. Sektor infrastruktur, properti, dan perbankan diharapkan menjadi sektor yang paling terpengaruh positif oleh kebijakan ini.