
Indonesia menargetkan peningkatan produksi minyak bumi menjadi 1 juta barel per hari (bph) pada tahun 2030, sebuah ambisi signifikan mengingat capaian produksi saat ini yang masih jauh di bawah angka tersebut. Untuk merealisasikan target tersebut, Indonesia harus meningkatkan produksi rata-rata 100 ribu bph setiap tahunnya. Target ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.
Data terbaru menunjukkan bahwa realisasi produksi minyak mentah Indonesia pada semester I-2025 hanya mencapai 578 ribu bph, atau 95,5 persen dari target APBN 2025 sebesar 605 ribu bph. Meskipun demikian, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa produksi minyak nasional hingga Oktober 2025 telah mencapai 605,5 ribu bph, melebihi sedikit target APBN 2025 dan naik 4,94% dibandingkan periode Januari–Oktober 2024. SKK Migas bahkan memproyeksikan produksi minyak dapat mencapai 605 ribu bph pada akhir tahun 2025, sejalan dengan target tahunan.
Sejarah industri perminyakan Indonesia berawal sejak era kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19, dengan pengeboran komersial pertama pada tahun 1883 di Telaga Said, Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Produksi sempat mencapai puncaknya pada tahun 1990-an dengan sekitar 1,6 juta bph, namun kemudian mengalami penurunan drastis hingga di bawah 600 ribu bph pada tahun 2024, terutama karena menuanya lapangan migas dan kurangnya investasi eksplorasi. Konsumsi minyak Indonesia pada tahun 2024 mencapai 1,63 juta bph, sementara produksi domestik hanya sekitar 600.000 bph, menyebabkan ketergantungan besar pada impor.
Untuk mencapai target 1 juta bph pada 2029-2030, pemerintah telah menyusun peta jalan jangka menengah. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam sektor hulu migas. Strategi utama mencakup optimalisasi lapangan eksisting, percepatan pengoperasian blok baru, dan eksplorasi masif. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran signifikan untuk survei geologi 2D dan 3D guna membuka potensi sumber daya di 108 dari 128 cekungan migas yang teridentifikasi, di mana hanya 20 yang telah dikembangkan. Ada potensi cadangan minyak sebesar 2,41 miliar barel di 68 cekungan yang belum dieksplorasi. Selain itu, SKK Migas menargetkan investasi hulu migas mencapai US$16 miliar pada 2026. Untuk mencapai target produksi 1 juta bph pada 2030, Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$20 miliar per tahun dan pengeboran lebih dari 1.000 sumur setiap tahun setelah 2025.
Salah satu pendekatan krusial adalah penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan perolehan minyak dari reservoir yang sudah tua. Metode seperti injeksi uap telah diterapkan di Lapangan Duri dan Minas, sementara injeksi CO₂ mulai diujicobakan, seperti oleh Pertamina bekerja sama dengan JAPEX dan JOGMEC di Lapangan Sukowati. Proyek Chemical EOR (CEOR) di Lapangan Minas Area A, Rokan, yang diresmikan oleh PT Pertamina Hulu Rokan, menargetkan peningkatan perolehan minyak sebesar 12-16 persen dari Original Oil in Place (OOIP). Menteri ESDM juga memastikan Indonesia akan berhenti mengimpor solar mulai tahun 2026 berkat rampungnya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang akan menambah kapasitas pengolahan minyak mentah menjadi 360.000 bph.
Namun, target ambisius ini dihadapkan pada sejumlah tantangan. Cadangan migas nasional terus menyusut, dengan hanya tersisa 4,7 miliar barel minyak dan 55,76 triliun kaki kubik gas pada Februari 2024. Sebanyak 60 persen wilayah kerja migas tergolong lapangan tua yang membutuhkan teknologi mahal untuk mempertahankan produksi. Keterbatasan investasi dan regulasi yang kurang fleksibel juga menjadi hambatan. Meskipun demikian, pemerintah telah mengaktifkan kembali skema kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) cost recovery secara paralel dengan skema Gross Split untuk menarik kembali investor kelas dunia. Saat ini, terdapat minat dari 25 perusahaan, termasuk Chevron dan Shell, untuk berinvestasi di sektor hulu migas Indonesia. Selain itu, SKK Migas baru-baru ini menemukan cadangan minyak baru di Sumur Eksplorasi Sungai Anggur Utara dengan potensi produksi hingga 1.500 bph. Kementerian ESDM juga menyiapkan lelang 60 blok migas hingga 2027 untuk menarik investasi dan meningkatkan cadangan.