
Menjadi bankir sekaligus wirausahawan merupakan sebuah konsep yang menarik dan semakin relevan di tengah dinamika ekonomi saat ini. Banyak individu mempertanyakan apakah memungkinkan untuk menjalankan kedua profesi yang menuntut ini secara bersamaan, ataukah salah satunya harus dikorbankan demi yang lain. Realitas menunjukkan bahwa ada berbagai perspektif dan pendekatan terhadap isu ini, dengan tantangan dan peluang uniknya masing-masing.
Secara umum, profesi bankir dikenal dengan stabilitas, gaji rutin, serta fasilitas dan kompensasi yang menarik. Namun, tidak semua bankir memiliki gairah untuk berkarier di sektor ini secara jangka panjang. Sebaliknya, dunia wirausaha menawarkan peluang sukses tanpa batas, kebebasan mengatur waktu, potensi penghasilan tidak terbatas, dan kontrol penuh atas bisnis. Namun, dunia usaha juga dikenal kejam dan penuh ketidakpastian, menuntut kesiapan mental dan kemampuan manajemen risiko yang tinggi.
Bagi banyak bankir, keputusan untuk beralih menjadi pengusaha seringkali berarti harus melepas gaji dan fasilitas yang telah dinikmati. Fenomena "Bankerpreneurs" merujuk pada individu yang sukses bertransformasi dari bankir menjadi pengusaha. Beberapa nama seperti Michael Rusli (mantan Presdir ABN Amro Indonesia), Robby Djohan (mantan Presdir Bank Niaga), Mochtar Ryadi (mantan Direktur BCA), dan Agam Napitupulu (mantan Executive Vice President Bank Mandiri) adalah contoh mantan bankir top yang kemudian berhasil di dunia usaha. Tung Desem Waringin, mantan bankir BCA, kini dikenal sebagai motivator dan pemilik bisnis konsultan ternama. Mereka berani mengambil risiko besar, meninggalkan zona nyaman demi tujuan menjadi pengusaha.
Namun, apakah memungkinkan untuk menjadi bankir dan wirausahawan secara simultan? Ini adalah pertanyaan yang kompleks. Kode Etik Bankir Indonesia menekankan pentingnya integritas, kepatuhan terhadap perundang-undangan, dan menghindari benturan kepentingan. Seorang bankir tidak diperbolehkan menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi atau menerima hadiah/imbalan yang memperkaya diri atau keluarganya. Ini berarti memiliki usaha sampingan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dengan pekerjaan utama sebagai bankir dapat menjadi pelanggaran etika serius. Misalnya, seorang direktur bank yang memerintahkan bagian logistik untuk membeli alat tulis dari perusahaan anaknya merupakan contoh benturan kepentingan yang melanggar etika. Menjaga kerahasiaan nasabah dan bank juga merupakan prinsip utama yang harus ditaati.
Meskipun demikian, terdapat celah bagi individu dengan latar belakang perbankan untuk merambah dunia usaha. Lulusan jurusan kewirausahaan, misalnya, memiliki pemahaman bisnis yang luas, kemampuan berpikir strategis, dan keahlian analitis yang relevan dan dibutuhkan di banyak posisi di bank. Sebaliknya, bankir yang memiliki pemahaman mendalam tentang manajemen risiko, keuangan, dan pasar dapat memanfaatkan pengetahuannya sebagai bekal berharga dalam berwirausaha.
Tantangan utama bagi mereka yang ingin menyeimbangkan kedua peran ini adalah manajemen waktu yang efektif. Pengusaha seringkali merasa kekurangan waktu karena banyaknya kegiatan yang harus diselesaikan, mulai dari produksi hingga pengelolaan pelanggan. Mereka dituntut untuk menetapkan prioritas, membuat jadwal yang realistis, mendelegasikan tugas, dan bahkan memanfaatkan teknologi seperti kalender digital atau aplikasi to-do list untuk efisiensi. Stres dan kejenuhan juga merupakan realitas yang harus dihadapi.
Beberapa tips manajemen waktu bagi pengusaha sukses meliputi memulai hari dengan sesi perencanaan singkat, menjadwalkan waktu "tanpa gangguan" untuk proyek intensif, dan melakukan evaluasi rutin terhadap penggunaan waktu. Penting juga untuk belajar kapan harus mengatakan "tidak" dan menjaga keseimbangan antara kerja dan istirahat.
Pada akhirnya, keputusan untuk menjadi bankir, wirausahawan, atau mencoba menyeimbangkan keduanya, bergantung pada gairah pribadi, kesiapan menghadapi risiko, kemampuan manajemen waktu, dan kepatuhan terhadap etika profesi yang berlaku. Bankir sendiri seringkali berperan penting dalam kewirausahaan dengan menyediakan bantuan keuangan dan masukan berharga bagi perusahaan rintisan. Bahkan, mantan Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, pernah menyarankan mahasiswa untuk menjadi wirausaha seperti Presiden Joko Widodo, alih-alih menjadi bankir, karena dampaknya yang lebih luas dalam penyerapan tenaga kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa semangat kewirausahaan sangat dihargai, terlepas dari latar belakang profesional seseorang.