Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Analisis Terbaru: IHSG Diprediksi Meroket ke 9.000 pada 2026

2025-12-29 | 06:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T23:47:36Z
Ruang Iklan

Analisis Terbaru: IHSG Diprediksi Meroket ke 9.000 pada 2026

Analis pasar modal memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berpeluang menembus level 9.000 hingga 10.000 sepanjang tahun 2026, didorong oleh potensi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia, penguatan konsumsi domestik, dan peningkatan kinerja laba emiten berkapitalisasi besar. Proyeksi optimistis ini muncul di tengah penutupan tahun 2025 yang fluktuatif, dengan IHSG berada di kisaran 8.537,91 pada 24 Desember 2025.

Beberapa institusi sekuritas telah merilis target ambisius untuk IHSG tahun depan. Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan IHSG mencapai rentang 9.435-9.720 pada 2026, didukung oleh kinerja yang signifikan di sepanjang 2025 dengan penguatan 22,56%. Sementara itu, BNI Sekuritas menargetkan IHSG menembus 9.100. Lebih jauh, Kiwoom Sekuritas bahkan memproyeksikan IHSG dapat mencapai 10.000 hingga 10.200, mengingat dominasi investasi asing langsung (FDI) pada sektor manufaktur yang memperkuat struktur ekonomi nasional. JPMorgan menetapkan target dasar IHSG pada akhir 2026 di level 9.100, dengan skenario optimistis mencapai 10.000. Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menilai target 9.000-10.000 sangat optimistis namun realistis, didorong oleh sinergi kebijakan makro yang kuat. Bahkan, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, memperkirakan IHSG dapat menembus 8.800 dan bahkan 9.000 pada kuartal I 2026, terutama didorong penguatan saham-saham grup konglomerat.

Optimisme ini berakar pada beberapa katalis fundamental. Salah satu pendorong utama adalah prospek kebijakan moneter yang akomodatif. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga secara kumulatif sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 dan masih memiliki ruang pelonggaran lanjutan pada 2026, selama stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga. Penurunan suku bunga ini diharapkan dapat memperkuat konsumsi domestik, dengan efek transmisinya yang baru terasa penuh pada 2026, menciptakan landasan fundamental yang solid bagi pertumbuhan laba emiten berkapitalisasi besar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, menyatakan keyakinannya bahwa 2026 akan menjadi periode yang lebih aktif bagi penghimpunan dana di pasar modal Indonesia, didukung stabilitas makroekonomi dan likuiditas sistem keuangan yang membaik.

Selain itu, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang jangka pendek seiring terjaganya stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Kebijakan pemerintah untuk mendorong pemulihan konsumsi domestik melalui kebijakan moneter dan fiskal diharapkan turut menopang pergerakan IHSG. Arus masuk modal asing juga diantisipasi seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral global, yang menjadikan pasar berkembang seperti Indonesia lebih menarik. Pada periode 22-24 Desember 2025, investor asing mencatatkan nilai beli bersih harian sebesar Rp2,45 triliun, mengindikasikan awal pembalikan sentimen.

Dari sisi sektoral, analis menyarankan fokus pada sektor keuangan, konsumsi primer dan sekunder, serta properti. Sektor perbankan diperkirakan menjadi tulang punggung IHSG dengan pertumbuhan laba solid, didorong peningkatan kredit konsumsi dan digitalisasi layanan. Sektor properti juga berpotensi mencapai titik balik pemulihan nasional pada 2026, didorong penurunan suku bunga BI yang merangsang permintaan KPR. JP Morgan merekomendasikan sektor industrials, materials, consumer staples, consumer discretionary, dan property untuk 2026.

Meskipun prospek terlihat cerah, sejumlah risiko dan tantangan tetap memerlukan kewaspadaan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,1%, menunjukkan ketahanan, tetapi belum menggambarkan akselerasi yang signifikan. Ia menyoroti lemahnya mesin pertumbuhan akibat perlambatan ekonomi global, penerapan tarif resiprokal Amerika Serikat, serta koreksi harga komoditas energi yang membuat kontribusi ekspor dan investasi tidak sekuat sebelumnya. Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, bahkan menilai ketahanan ekonomi Indonesia berada pada level rendah, berisiko pertumbuhan turun hingga 2,5% pada 2026 jika konsumsi rumah tangga melemah dan beban utang pemerintah terus meningkat.

Volatilitas rupiah juga menjadi risiko utama yang dapat memengaruhi kepercayaan bisnis dan arus modal jika depresiasi berlanjut. Selain itu, beberapa analis memperingatkan adanya potensi "bull market semu" atau polarisasi pasar, di mana hanya kelompok saham tertentu yang menjadi magnet arus dana asing sementara yang lain ditinggalkan. Valuasi pasar saham Indonesia juga sudah tergolong tinggi dari sisi rasio harga terhadap pendapatan (PE ratio). Hal ini menekankan pentingnya pendekatan selektif dalam berinvestasi, dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat dan menghindari euforia berlebihan yang mengabaikan valuasi.