
PT Pindad (Persero) telah ditunjuk sebagai pengembang utama proyek mobil nasional, dengan target produksi yang ditetapkan pada tahun 2027. Penunjukan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat kemandirian industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan investasi, dan mengurangi ketergantungan pada produk otomotif impor.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa konsep mobil nasional yang diajukan oleh Pindad telah dianggap matang dan komprehensif. Pembahasan teknis dan konseptual yang mendalam telah dilakukan antara Kementerian Perindustrian dan Pindad, meliputi aspek jenis kendaraan yang akan diproduksi, strategi harga, strategi pemasaran, hingga pelayanan purna jual. Konsep tersebut juga mencakup teknologi yang akan digunakan serta proses produksi.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berkomitmen penuh untuk memberikan dukungan terhadap proyek ini. Dukungan tersebut mencakup fasilitasi teknis, teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta aspek kesiapan lahan dan infrastruktur industri. Selain itu, pemerintah juga sedang menyiapkan insentif industri otomotif untuk mendorong investasi, memperbesar kapasitas produksi, dan membuat harga jual lebih kompetitif.
Dalam pengembangannya, Pindad telah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan otomotif asal Korea Selatan, KG Mobility Corp. Kolaborasi ini bertujuan untuk menggarap proyek mobil dan bus listrik nasional, dengan target kapasitas produksi mencapai 200.000 unit. KG Mobility akan mendukung Pindad dalam evaluasi produk, teknologi, dan rekayasa kendaraan. Fokus pada kendaraan listrik menunjukkan komitmen untuk mengadopsi teknologi terkini dan mendukung elektrifikasi di sektor otomotif.
Proyek mobil nasional ini digarisbawahi sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh Presiden Prabowo Subianto. Selain pengembangan mobil penumpang, Pindad juga memiliki pengalaman dalam memproduksi kendaraan taktis seperti MV3 EV Pandu dan Maung Garuda Limousine, yang beberapa komponennya memiliki kandungan lokal tinggi. Langkah ini diharapkan tidak hanya melahirkan kendaraan nasional yang fungsional tetapi juga mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional, serta menjadi pendorong bagi pengembangan industri hulu dan hilir di Indonesia.