Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rupiah Terpuruk: Analis Sebut Ini Belum Titik Nadir

2025-11-28 | 00:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-27T17:47:07Z
Ruang Iklan

Rupiah Terpuruk: Analis Sebut Ini Belum Titik Nadir

Gejolak nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan utama di pasar finansial domestik. Mata uang Garuda sempat terpuruk, menembus level psikologis Rp16.500 per dolar AS dan bahkan mencapai Rp16.700 per dolar AS pada beberapa waktu lalu. Secara historis, Rupiah pernah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di 17107,00 pada April 2025. Kendati demikian, sejumlah pengamat menyebut bahwa kondisi saat ini, meski menantang, belum seburuk yang pernah dialami oleh mata uang negara lain atau bahkan Rupiah di masa lalu.

Pelemahan Rupiah didorong oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, penguatan indeks dolar AS (DXY) yang berkelanjutan, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, serta ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik menjadi pemicu utama. Prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) yang tertunda akibat data tenaga kerja AS yang solid juga turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara itu, faktor domestik mencakup defisit transaksi berjalan, inflasi domestik, serta aliran modal keluar.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, sebelumnya menyatakan komitmen kuat BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing baik di luar negeri maupun domestik. Perry juga menegaskan bahwa pergerakan Rupiah ke depan akan lebih stabil, ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang kokoh di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Namun, Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti adanya "kebingungan" di pasar terkait arah kebijakan di Indonesia, terutama mengenai perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Bank Indonesia. Hal ini turut menjadi penyebab Rupiah melemah meskipun indeks dolar AS menunjukkan pelemahan. Ibrahim memproyeksikan Rupiah akan tetap fluktuatif dan berpotensi melemah dalam rentang Rp16.660 hingga Rp16.700 per dolar AS dalam waktu dekat.

Meskipun Rupiah mengalami tekanan, beberapa analis dan data perbandingan menunjukkan bahwa depresiasinya tidak sedalam mata uang negara lain. Misalnya, dalam 12 bulan terakhir, Rupiah melemah sekitar 4,91% terhadap dolar AS. Sebagai perbandingan, dalam periode yang lebih panjang, Yen Jepang melemah hingga 11,30% dan Peso Filipina melemah 5,58% terhadap dolar AS dalam setahun. Bahkan, pada November 2025, dolar Singapura dan peso Filipina juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, sementara ringgit Malaysia dan baht Thailand justru menguat. Ini mengindikasikan bahwa sementara Rupiah menghadapi tantangan, ada mata uang lain yang mengalami situasi lebih berat, menegaskan pandangan bahwa masih ada kondisi yang lebih buruk dalam konteks pelemahan mata uang.

Saat ini, Rupiah menunjukkan sedikit penguatan, ditutup pada posisi Rp16.635 per dolar AS pada Kamis (27/11/2025), melanjutkan tren apresiasi mata uang Garuda dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini sebagian besar didukung oleh pelemahan dolar AS secara global setelah sinyal dovish dari Federal Reserve, yang meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga. Dari dalam negeri, sentimen stabilitas juga didukung oleh optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 dan kebijakan stimulus ekonomi yang digulirkan. Namun, apresiasi ini masih dianggap bersifat sementara karena pasar tetap dibayangi ketidakpastian arah kebijakan domestik serta prospek pemangkasan suku bunga acuan The Fed.