:strip_icc()/kly-media-production/medias/5146602/original/051806900_1740834621-WhatsApp_Image_2025-03-01_at_19.10.27.jpeg)
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) secara aktif mengkaji ulang proyeksi bisnis dan target keuntungannya pasca menerima tambahan penyertaan modal dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Evaluasi ini menjadi langkah krusial untuk memastikan program pemulihan operasional dan finansial maskapai dapat berjalan maksimal, dengan harapan dampak perbaikan operasional mulai terlihat pada laporan kinerja keuangan kuartal II tahun depan.
Maskapai penerbangan nasional tersebut telah menerima suntikan modal sebesar Rp23,67 triliun dari Danantara. Dana segar ini dialokasikan untuk beberapa prioritas, termasuk pemeliharaan armada Citilink sebesar 47 persen, pemeliharaan pesawat Garuda Indonesia sebesar 37 persen, serta pembayaran avtur Citilink kepada Pertamina sebesar 16 persen. Suntikan dana ini juga merupakan bagian dari upaya restrukturisasi dan transformasi perseroan yang lebih luas, dengan fokus pada penguatan kapabilitas operasional melalui optimalisasi bisnis dan kinerja.
Meskipun proses restrukturisasi terus berjalan, Garuda Indonesia masih mencatatkan kerugian. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2025, kerugian periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai 182,8 juta dolar AS atau sekitar Rp3,05 triliun. Sementara itu, pada kuartal I 2025, perusahaan melaporkan rugi bersih sebesar USD 76,48 juta atau setara Rp1,26 triliun, angka yang menunjukkan perbaikan dibandingkan kerugian USD 87,03 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Per 30 Juni 2025, ekuitas perseroan masih negatif sebesar US$1,5 miliar, namun diproyeksikan akan membaik menjadi positif US$183 juta setelah pelaksanaan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD).
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menegaskan bahwa perusahaan sedang mengkaji ulang prospek bisnis, termasuk rencana pengembangan jaringan penerbangan untuk tahun mendatang. Proyeksi pendapatan tahun 2026 akan sangat bergantung pada strategi perencanaan jaringan (network planning) serta kapasitas produksi (Available Seat Kilometer/ASK) yang akan ditetapkan. Thomas juga menyatakan bahwa rencana pembelian pesawat baru pada tahun 2026 sedang dikaji ulang.
Senada, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, sebelumnya mengungkapkan optimisme bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi Garuda Indonesia untuk membukukan laba bersih positif. Manajemen perusahaan berharap perbaikan operasional yang kini tengah dilakukan dapat membawa dampak positif signifikan pada kinerja keuangan, dengan target pemulihan yang diharapkan terlihat pada kuartal II tahun depan. Optimalisasi ini diharapkan dapat mengokohkan posisi Garuda Indonesia sebagai maskapai kelas dunia.