:strip_icc()/kly-media-production/medias/3893145/original/056566800_1641196873-20220103-Pembukaan_Awal_Tahun_2022_IHSG_Menguat-2.jpg)
Saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 9 Januari 2026, diperkirakan akan menghadapi pergerakan yang dipengaruhi oleh kombinasi sentimen pasar global dan domestik, di tengah antisipasi tekanan dari kelebihan kapasitas di industri pelayaran kontainer dunia. Proyeksi ekonomi Indonesia yang stabil namun terbatasnya akselerasi menjadi latar belakang penting, sementara faktor geopolitik dan regulasi emisi tetap menjadi variabel krusial bagi kinerja sektor logistik maritim.
Secara historis, SMDR telah menunjukkan kemampuan untuk menyesuaikan strategi operasional di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, mempertahankan posisinya di industri pelayaran dan logistik selama lebih dari tujuh dekade. Perusahaan ini bergerak dalam layanan pengiriman, pelabuhan, logistik, dan jasa di Indonesia, Asia Tenggara, Timur Tengah, India, dan secara internasional, dengan segmen pengiriman kontainer menjadi pendorong pendapatan utama. Perusahaan ini berhasil membukukan pertumbuhan laba rata-rata tahunan sebesar 3,9% selama lima tahun terakhir, meskipun pertumbuhan laba tahun lalu sebesar 0,3% sedikit di bawah rata-rata lima tahun tersebut. Pendapatan perusahaan pada tahun 2024 tercatat sebesar 737,41 juta dolar AS, menurun 4,53% dari tahun sebelumnya, dengan laba sebesar 50,70 juta dolar AS, turun 32,02%.
Prospek industri pelayaran global untuk tahun 2026 menunjukkan gambaran yang kompleks. Fitch Ratings memperkirakan kinerja pelayaran kontainer akan melemah pada tahun 2026 akibat penurunan tarif angkutan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Orderbook kapal kontainer global mencapai sekitar 30% dari armada yang ada, level tertinggi dalam lebih dari 10 tahun, menunjukkan pasokan diperkirakan akan melebihi permintaan. Supal Shah, CEO Sarjak Container Lines, menyatakan bahwa industri pelayaran global memasuki tahun 2026 sebagai pasar yang didorong oleh pengirim, ditandai oleh ketidakseimbangan pasokan-permintaan yang melebar dan tarif angkutan yang melonggar. Kondisi ini diperparah oleh ancaman kelebihan kapasitas yang membayangi, dengan peningkatan kapasitas armada global diproyeksikan tumbuh antara 3,6% hingga 5% pada tahun 2026, jauh melampaui pertumbuhan permintaan sebesar 1,5% hingga 3%. Analis Dynamar, Darron Wadey, mencatat bahwa kapasitas pengiriman kontainer global telah meningkat 27% antara September 2022 dan September 2025, sementara pertumbuhan kargo hanya 8,5%, menciptakan defisit yang jelas.
Meskipun demikian, segmen tanker, terutama tanker minyak mentah, diperkirakan akan tetap berkinerja baik karena pertumbuhan permintaan akhir dan ton-mil. Gangguan di Laut Merah dan ekspor minyak dari Rusia telah menjaga permintaan keseluruhan untuk tanker tetap tinggi.
Faktor geopolitik terus menjadi pendorong utama ketidakpastian di sektor pelayaran. Risiko-risiko seperti potensi eskalasi terkait tarif, proteksionisme, kemungkinan dibukanya kembali transit Laut Merah, dan persaingan untuk mengendalikan rantai nilai pelayaran, semuanya dapat memengaruhi kinerja. UNCTAD memperingatkan bahwa pelayaran global memasuki periode "volatilitas kronis" akibat tarif baru, dampak konflik, dan peningkatan jarak pelayaran. Krisis Laut Merah, misalnya, telah mengubah pola rute global dan secara signifikan meningkatkan premi asuransi serta biaya bahan bakar. Pembukaan kembali Laut Merah, jika tidak bertahap, juga dapat menyebabkan gangguan signifikan seperti kemacetan pelabuhan.
Dari sisi makroekonomi domestik, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh stabil sekitar 4,9%–5,0% pada tahun 2026, didukung oleh permintaan domestik, pemulihan manufaktur, dan investasi yang berkelanjutan. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan PDB 2026 di angka 5,33%–5,4% jika belanja fiskal dipercepat. Sektor logistik termasuk salah satu yang mendorong realisasi investasi di tiga kuartal pertama 2025. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar utama pertumbuhan, menyumbang lebih dari separuh PDB. Namun, risiko eksternal dan keterbatasan ruang fiskal dan moneter tetap menjadi penghambat potensi kenaikan.
Dengan mempertimbangkan dinamika ini, kinerja saham SMDR pada 9 Januari 2026 akan sangat bergantung pada bagaimana investor menimbang tekanan global dari kelebihan kapasitas kontainer dan risiko geopolitik versus fundamental domestik yang relatif stabil. Meskipun proyeksi analis untuk SMDR dapat bervariasi, data teknikal terbaru menunjukkan posisi 'Strong Buy' berdasarkan analisis harian dengan indikator seperti Relative Strength Index (RSI) di 73,195 dan moving average 200 hari di 337,3900. Namun, moving average 5 hari di 452,4000 mengindikasikan 'Sell'. Perusahaan juga memiliki rasio dividen 2,7%, didukung oleh rasio pembayaran yang rendah sebesar 21,9%. SMDR telah mengumumkan dividen final sebesar Rp9 per saham untuk tahun fiskal 2024, dengan total pembayaran Rp180,2 miliar. Tanggal ex-dividend berikutnya diperkirakan pada 8 Agustus 2025. Investor akan mencermati laporan keuangan selanjutnya yang diperkirakan rilis pada 30 Maret 2026 untuk informasi lebih lanjut mengenai kinerja perusahaan.