Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Peluang Cuan Saham Hari Ini: Analisis FAST, PTBA, TINS, SRTG, SSIA Wajib Pantau

2026-01-07 | 07:48 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T00:48:56Z
Ruang Iklan

Peluang Cuan Saham Hari Ini: Analisis FAST, PTBA, TINS, SRTG, SSIA Wajib Pantau

Para analis pasar modal memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari Rabu, 7 Januari 2026, dengan sejumlah saham pilihan menjadi fokus investor. IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 8.959-8.994 setelah mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di 8.933,61 pada perdagangan sebelumnya, didorong oleh volume pembelian yang dominan dan kenaikan harga komoditas logam, meskipun rupiah menunjukkan pelemahan.

PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menjadi salah satu saham yang direkomendasikan. Saham ini ditutup menguat 0,81% ke level Rp 625 pada 6 Januari 2026, dengan volume pembelian yang meningkat. MNC Sekuritas merekomendasikan "buy on weakness" di rentang 580-625 dengan target harga 700 dan 740, serta stoploss di bawah 555. Sentimen positif FAST didorong oleh kolaborasi baru dengan PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN), perusahaan terafiliasi Haji Isam, yang diperkirakan akan memperkuat kapasitas operasional dan prospek pemulihan kinerja perusahaan. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi dan Kenzie Keane, memperkirakan pendapatan FAST pada 2026-2030 tumbuh dengan CAGR 11% dan laba bersih berbalik positif pada 2027, mencapai Rp 302 miliar pada 2030.

Untuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA), analis MNC Sekuritas juga merekomendasikan "buy on weakness" di rentang 2.290-2.340, dengan target harga 2.410 dan 2.450, serta stoploss di bawah 2.270. Saham PTBA menguat 1,28% ke 2.370 pada perdagangan kemarin, disertai peningkatan volume pembelian dan mampu bertahan di atas MA60. Meskipun prospek sektor batu bara diperkirakan menantang pada 2026, PTBA dinilai masih menarik. Perusahaan ini mencatatkan pendapatan Rp 38,49 triliun dan laba bersih Rp 6,11 triliun sepanjang 2023, menunjukkan upaya peningkatan kinerja operasional.

PT Timah Tbk (TINS) menarik perhatian dengan rekomendasi "speculative buy" dari MNC Sekuritas pada rentang 3.220-3.320, menargetkan harga 3.510 dan 3.760, serta stoploss di bawah 3.110. Saham TINS menguat 0,60% ke 3.340 pada 6 Januari 2026. Sepanjang tahun 2025, TINS melonjak 190,65% ke level Rp 3.110 per saham, menjadikannya emiten dengan kinerja terbaik di grup MIND ID. Prospek TINS untuk tahun 2026 dinilai cerah, ditopang oleh harga timah global yang solid dan upaya penertiban tambang ilegal. Analis Harry memproyeksikan pendapatan TINS di 2026 dapat tumbuh 125,5% YoY menjadi Rp 20,1 triliun dan laba bersih naik 176,4% YoY menjadi Rp 2,5 triliun.

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) juga masuk dalam daftar rekomendasi "buy on weakness" oleh MNC Sekuritas, dengan rentang 1.575-1.625, target harga 1.685 dan 1.725, serta stoploss di bawah 1.525. Saham SRTG menguat 6,84% ke 1.640 pada perdagangan kemarin, disertai kenaikan volume pembelian dan menembus MA60. SRTG mulai menunjukkan fase pemulihan setelah periode konsolidasi yang panjang, dengan sinyal rebound dan prospek fundamental yang kuat dari portofolio investasi yang solid dan terdiversifikasi.

Sementara itu, PT Surya Internusa Semesta Tbk (SSIA) direkomendasikan oleh PT Pilarmas Investindo Sekuritas. Sektor properti secara umum dinilai menyimpan peluang pertumbuhan pada 2026, didukung kinerja indeks saham sektor ini yang naik 53,40% sepanjang 2025. Katalis positif termasuk perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% hingga 2026 untuk harga jual rumah tertentu, serta potensi pelonggaran kebijakan moneter yang menurunkan suku bunga acuan. Analisis teknikal per 5 Januari 2026 menunjukkan rata-rata bergerak SSIA cenderung "sangat jual", namun target harga rata-rata 12 bulan dari analis adalah Rp 2.710, dengan estimasi tertinggi Rp 4.000 dan terendah Rp 2.050. Sebanyak 7 analis merekomendasikan beli untuk saham ini. Prospek SSIA juga diperkuat oleh fokus perusahaan pada pengembangan pusat data.

Kondisi pasar modal Indonesia secara keseluruhan pada 7 Januari 2026 diperkirakan masih berpeluang menguat, setelah IHSG mencetak rekor tertinggi baru di 8.933,61 pada perdagangan 6 Januari 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana mendorong peningkatan integritas pasar, pendalaman likuiditas, penguatan basis investor institusi, serta percepatan pembangunan ekosistem Bursa Karbon yang kredibel dan berstandar internasional pada tahun 2026. Namun, perlu diwaspadai potensi koreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung (profit taking) dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang ditutup di level Rp16.740/US$ pada 6 Januari 2026. Investor juga menantikan rilis data ekonomi penting dari Eropa dan AS.