
Rio Tinto dan Glencore kembali terlibat dalam diskusi awal mengenai potensi penggabungan sebagian atau seluruh bisnis mereka, sebuah langkah yang dapat menciptakan raksasa pertambangan global dengan eksposur tembaga yang signifikan dan berpotensi lebih lanjut mendorong kenaikan harga komoditas penting tersebut. Diskusi, yang dikonfirmasi oleh kedua perusahaan pada 9 Januari 2026, terjadi di tengah lonjakan harga tembaga ke rekor tertinggi di atas US$13.000 per metrik ton pada awal Januari 2026, didorong oleh defisit pasokan yang semakin parah dan permintaan yang meningkat tajam dari sektor elektrifikasi global, infrastruktur kecerdasan buatan (AI), dan belanja pertahanan.
Wacana penggabungan antara Rio Tinto, salah satu produsen bijih besi terbesar dunia, dengan Glencore, konglomerat pertambangan dan perdagangan komoditas yang luas, telah muncul beberapa kali di masa lalu, dengan pembicaraan sebelumnya yang gagal pada tahun 2024 dan Maret 2025. Namun, momentum saat ini jauh berbeda, didorong oleh apa yang analis sebut sebagai "supercycle tembaga" yang terjadi karena ketidakseimbangan struktural antara pasokan dan permintaan. Defisit tembaga olahan global diperkirakan mencapai 150.000 hingga 330.000 metrik ton pada awal 2026, dengan beberapa perkiraan menunjukkan kekurangan pasokan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.
Jika terwujud, merger ini dapat menghasilkan entitas gabungan dengan nilai perusahaan melebihi US$260 miliar, melampaui BHP sebagai perusahaan pertambangan terbesar di dunia dan membentuk pemain dominan dalam pasar tembaga. Gabungan produksi tembaga dari kedua perusahaan diperkirakan akan melampaui 1,6 juta metrik ton pada tahun 2026, menjadi yang terbesar secara global. Upaya Rio Tinto ini juga sejalan dengan ambisinya untuk meningkatkan produksi tembaga hingga 1 juta ton per tahun pada tahun 2030, dan akuisisi Glencore dapat membantu mencapai target tersebut.
Dorongan utama di balik konsolidasi ini adalah proyeksi permintaan tembaga yang melonjak. Laporan S&P Global berjudul "Copper in the Age of AI: Challenges of Electrification" yang diterbitkan pada Januari 2026, memproyeksikan permintaan tembaga global akan meningkat 50% menjadi 42 juta metrik ton pada tahun 2040 dari tingkat saat ini. Sektor-sektor seperti pusat data AI, yang membutuhkan 4-6 ton tembaga per megawatt kapasitas terpasang, serta peningkatan belanja pertahanan yang intensif tembaga, diperkirakan akan menambah sekitar 4 juta ton konsumsi tahunan pada tahun 2040. Sementara itu, pasokan tembaga menghadapi kendala struktural yang parah, termasuk penurunan kualitas bijih rata-rata sebesar 40% sejak 1990, terbatasnya penemuan deposit baru, serta tantangan operasional dan regulasi yang memperpanjang waktu pengembangan tambang baru hingga rata-rata 16,3 tahun.
Kondisi pasar yang ketat ini telah mendorong harga tembaga ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. J.P. Morgan Global Research memperkirakan harga tembaga akan mencapai US$12.500/metrik ton pada kuartal kedua 2026 dan rata-rata sekitar US$12.075/metrik ton untuk sepanjang tahun. Goldman Sachs Research, meskipun memperkirakan penurunan harga dari rekor tertinggi pada tahun 2026, tetap bullish untuk jangka panjang, memproyeksikan harga tembaga London Metal Exchange (LME) mencapai US$15.000 per metrik ton pada tahun 2035.
Implikasi merger ini melampaui sekadar volume produksi. Konsolidasi semacam ini dapat mengurangi persaingan di pasar global, memberikan kekuatan penetapan harga yang lebih besar kepada entitas gabungan di tengah kekurangan pasokan yang terus-menerus. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran regulasi, terutama dari Tiongkok, konsumen tembaga terbesar dunia, yang mungkin akan meneliti dampak merger terhadap kekuatan penetapan harga.
Namun, tantangan tidak sedikit. Salah satu hambatan potensial adalah kepemilikan aset batu bara Glencore. Rio Tinto telah melepaskan aset batu baranya pada dekade terakhir untuk fokus pada portofolio yang lebih "hijau", sementara Glencore adalah salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia. Bagaimana kedua raksasa ini akan menyelaraskan strategi portofolio mereka, terutama terkait batu bara, akan menjadi kunci keberhasilan kesepakatan. Analis di RBC Capital menyarankan bahwa pemisahan divisi batu bara Glencore dapat membuka nilai yang signifikan.
Selain itu, Rio Tinto memiliki batas waktu hingga 5 Februari 2026, pukul 5 sore waktu London, untuk mengumumkan niat tegas membuat penawaran atau menarik diri sesuai aturan pengambilalihan di Inggris. Perkembangan ini mengikuti merger besar lainnya di sektor ini, yaitu antara Anglo American dan Teck Resources senilai US$53 miliar pada September 2025, yang juga sangat fokus pada tembaga. Gelombang konsolidasi ini mencerminkan tren industri pertambangan global yang berupaya mengakuisisi dan mengamankan sumber daya tembaga jangka panjang di tengah ekspektasi permintaan yang tak terpuaskan dan tantangan pasokan yang mendalam.