
Bekas Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 9 Januari 2026, mendesak hampir 20 eksekutif perusahaan minyak Amerika untuk menginvestasikan setidaknya 100 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 1.684 triliun, untuk merevitalisasi infrastruktur energi Venezuela yang telah usang. Usulan tersebut, yang disampaikan di Gedung Putih, bertujuan untuk menurunkan harga minyak global dan mengurangi biaya bagi konsumen Amerika. Namun, perusahaan-perusahaan minyak besar menyuarakan skeptisisme mendalam terkait stabilitas politik dan potensi keuntungan di negara Amerika Selatan tersebut.
Pernyataan Trump ini muncul setelah penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS pada 3 Januari 2026, sebuah peristiwa yang diklaim Trump membuka peluang investasi besar-besaran di sektor minyak Venezuela. Gedung Putih menyatakan pihaknya akan mengendalikan pendapatan minyak Venezuela, dengan sebagian dana akan dialirkan kembali ke Venezuela dan sebagian lainnya menguntungkan rakyat Amerika. Bahkan, Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mencegah pengadilan AS menyita pendapatan minyak Venezuela yang tersimpan di rekening Treasury AS.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel. Namun, industri perminyakannya telah mengalami kemerosotan parah akibat salah urus selama bertahun-tahun, kurangnya investasi, dan sanksi internasional. Produksi minyak negara itu merosot drastis dari puncaknya 3,5 juta barel per hari pada tahun 1997 menjadi sekitar 750.000 hingga 1 juta barel per hari saat ini. Sebagian besar minyak Venezuela adalah jenis berat dan tinggi sulfur, yang membutuhkan biaya produksi lebih tinggi, infrastruktur khusus, dan pencampuran dengan diluent untuk transportasi dan pemrosesan.
Skeptisisme dari industri minyak tidak hanya berasal dari sejarah ketidakstabilan politik Venezuela, tetapi juga dari pengalaman pahit sebelumnya. Beberapa raksasa energi telah kehilangan miliaran dolar dalam usaha patungan di Venezuela di masa lalu. CEO Exxon Mobil, Darren Woods, pada pertemuan di Gedung Putih, secara terbuka menyatakan bahwa Venezuela saat ini "tidak dapat diinvestasikan" dan membutuhkan "perubahan signifikan" pada kerangka kerja komersial dan sistem hukumnya. Sekretaris Keuangan Scott Bessent juga mengutarakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar, dengan struktur korporasi dan dewan direksi yang bergerak lambat, "tidak tertarik" pada investasi semacam itu, meskipun ada minat dari "perusahaan minyak independen dan spekulan".
Chevron Corporation menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela di bawah lisensi khusus dari Departemen Keuangan AS. Perusahaan ini mempertahankan keberadaannya melalui usaha patungan dengan Petróleos de Venezuela S.A. (PDVSA), meskipun dalam kapasitas terbatas, mengimpor sekitar 120.000 barel minyak mentah per hari ke AS pada Desember lalu. Sebaliknya, ExxonMobil dan ConocoPhillips terpaksa menarik diri pada tahun 2007 setelah pemerintah Hugo Chávez menasionalisasi aset mereka dan masih memiliki klaim kompensasi miliaran dolar yang belum terselesaikan.
Meski pemerintah AS telah memulai proses pencabutan sebagian sanksi terhadap sektor minyak Venezuela dan Sekretaris Keuangan Bessent mengisyaratkan pencabutan sanksi lebih lanjut "segera minggu depan", para analis memperingatkan bahwa pemulihan signifikan akan membutuhkan waktu, pembangunan kembali infrastruktur berskala besar, miliaran dolar modal, dan keterlibatan berkelanjutan dari perusahaan minyak internasional. Perkiraan untuk melipatgandakan produksi Venezuela menjadi 3 juta barel per hari pada tahun 2040 akan menelan biaya sekitar 183 miliar dolar AS, menurut Rystad Energy. Namun, BloombergNEF memperkirakan bahwa setiap peningkatan produksi Venezuela kemungkinan tidak akan berdampak pada harga minyak global hingga tahun 2030, bahkan mungkin 2035.
Tantangan mendasar untuk menarik investasi besar termasuk kebutuhan jaminan keamanan bagi personel dan aset, stabilitas politik jangka panjang, reformasi kerangka kerja fiskal dan hukum bagi perusahaan minyak asing, serta penyelesaian klaim kompensasi sebelumnya. Tanpa "jaminan kuat" dari pemerintah AS untuk mengganti biaya investasi, perusahaan-perusahaan energi global diperkirakan akan sangat berhati-hati. Analis juga mencatat bahwa dengan harga minyak mentah berat Venezuela yang biasanya dijual dengan diskon signifikan dan perkiraan harga impas mendekati 80 dolar AS per barel, investasi berskala besar mungkin tidak menarik pada tingkat harga saat ini.
Dalam jangka pendek hingga menengah, meskipun ada potensi peningkatan produksi sekitar 300.000 barel per hari dalam dua hingga tiga tahun jika sanksi dilonggarkan dan AS menjadi pembeli yang stabil, angka ini masih jauh dari cukup untuk secara signifikan memengaruhi pasar global yang mengonsumsi lebih dari 100 juta barel per hari. Prospek investasi 100 miliar dolar AS yang diumumkan Trump, sementara menawarkan visi pemulihan dan penurunan harga energi, menghadapi rintangan ekonomi dan geopolitik yang kompleks serta skeptisisme yang nyata dari para pemain kunci di industri energi.