Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Investor Proyeksikan Pemangkasan Suku Bunga The Fed 2026 Lebih Minim

2026-01-04 | 04:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T21:34:53Z
Ruang Iklan

Investor Proyeksikan Pemangkasan Suku Bunga The Fed 2026 Lebih Minim

Ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga Federal Reserve pada tahun 2026 telah berkurang secara signifikan, menyimpang dari proyeksi yang lebih agresif sebelumnya. Para investor kini menghadapi prospek kebijakan moneter yang lebih ketat untuk periode yang lebih lama, didorong oleh inflasi yang persisten dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang tangguh, meskipun ada tanda-tanda pasar tenaga kerja yang melambat. Proyeksi terbaru dari Federal Open Market Committee (FOMC) pada Desember 2025 menunjukkan median hanya satu kali pemotongan suku bunga pada tahun 2026, sebuah kontras tajam dengan harapan pasar sebelumnya yang memprediksi lebih banyak pelonggaran. Data aktivitas pasar berjangka saat ini mengindikasikan probabilitas sekitar 56% untuk dua atau kurang pergerakan suku bunga pada tahun 2026.

Pada akhir 2024 dan awal 2025, pasar secara luas mengantisipasi serangkaian pemotongan suku bunga agresif, dipicu oleh tanda-tanda awal disinflasi dan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi. Federal Reserve telah melakukan tiga kali pemotongan suku bunga pada tahun 2025, menurunkan suku bunga dana federal ke kisaran 3,5% hingga 3,75% pada Desember 2025. Pemotongan ini dimulai pada September 2024. Namun, dinamika ekonomi sejak itu telah bergeser, mendorong The Fed untuk mengadopsi sikap yang lebih berhati-hati.

Inflasi, meskipun telah mereda dari puncaknya pada tahun 2022, tetap berada di atas target tahunan 2% The Fed. Indeks Harga Konsumen (CPI) pada November 2025 tercatat 2,7%. Sementara itu, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, ukuran pilihan The Fed, berada di 2,8% pada September 2025. Banyak ekonom memperkirakan inflasi PCE inti akan tetap di atas 2% sepanjang tahun 2026. Tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump disebutkan sebagai faktor pendorong harga, dengan efeknya diperkirakan akan memudar pada pertengahan 2026. Para peramal di Bank of America bahkan memproyeksikan inflasi PCE inti akan tetap di 2,8% pada akhir 2026, menandakan "inflasi di atas target hingga akhir 2027." Di sisi lain, Goldman Sachs Research berpendapat bahwa masalah inflasi AS telah teratasi, dengan perkiraan inflasi dasar sekitar 2% jika tarif dikecualikan.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi AS telah menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dari perkiraan. The Fed telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 menjadi 2,3% dari 1,8% pada September. Goldman Sachs Research memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan meningkat menjadi 2-2,5% pada tahun 2026. Investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan turut mendorong pertumbuhan PDB secara keseluruhan. Pasar tenaga kerja juga menunjukkan ketahanan, meskipun dengan beberapa tanda perlambatan. Goldman Sachs memperkirakan penciptaan lapangan kerja akan meningkat dan menstabilkan tingkat pengangguran sedikit di atas 4,4% pada September 2025. Ekonom Vanguard memprediksi tingkat pengangguran yang lebih rendah pada tahun 2026. Namun, beberapa pejabat Fed menyatakan kekhawatiran tentang melemahnya pasar tenaga kerja, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% pada November 2025. Ketua Fed Jerome Powell, pada September 2025, mencatat bahwa "permintaan tenaga kerja telah melunak" dan "laju penciptaan lapangan kerja baru-baru ini tampaknya berada di bawah tingkat impas" sebagai dasar untuk pemotongan suku bunga.

Risalah pertemuan FOMC Desember 2025 mengungkap perpecahan mendalam di antara para pembuat kebijakan, dengan beberapa pejabat ingin mempertahankan suku bunga tidak berubah "untuk beberapa waktu" setelah pemotongan. Tujuh pejabat memproyeksikan tidak ada pemotongan suku bunga pada tahun 2026 dalam "dot plot" Desember, sementara delapan lainnya memperkirakan dua atau lebih pemotongan, dan empat pejabat hanya mendukung satu pemotongan. Ini menunjukkan adanya "kubu hawkish yang cukup besar" di dalam komite. Ketua Fed Jerome Powell, setelah pertemuan Desember 2025, menyatakan bahwa bank sentral "berada dalam posisi yang baik untuk menunggu dan melihat bagaimana ekonomi berkembang" dan menyoroti ketegangan antara tujuan lapangan kerja dan inflasi. Matthew Luzzetti, kepala ekonom AS di Deutsche Bank, mencatat bahwa data ekonomi "kemungkinan akan terlihat kurang mendukung suku bunga yang lebih rendah pada pertengahan 2026."

Implikasi dari prospek ini meluas. Pasar obligasi akan merasakan dampak di mana imbal hasil obligasi jangka panjang mungkin tetap tinggi meskipun The Fed memangkas suku bunga jangka pendek, yang mengarah pada "peningkatan" kurva imbal hasil. Ini terjadi karena investor mengantisipasi lebih banyak inflasi di masa depan dan menuntut pengembalian yang lebih tinggi. Morgan Stanley memperkirakan imbal hasil obligasi Treasury AS 10-tahun akan menurun hingga pertengahan tahun seiring The Fed menurunkan suku bunga, sebelum kembali di atas 4% pada akhir tahun. Bagi pembeli rumah dan bisnis, ini berarti biaya pinjaman, seperti tingkat hipotek, dapat tetap tinggi, mengurangi dampak positif dari setiap pemotongan suku bunga Fed.

Selain faktor ekonomi, pergantian kepemimpinan di The Fed juga menambah lapisan ketidakpastian. Presiden Donald Trump diperkirakan akan menominasikan ketua Fed baru pada Mei 2026, menggantikan Jerome Powell. Trump secara terbuka mendukung suku bunga yang lebih rendah. Namun, ketua Fed hanyalah salah satu dari 12 anggota yang memiliki hak suara, dan keputusan akan bergantung pada konsensus komite. Ambiguiras dalam prospek ini lebih tinggi dari biasanya, dan peristiwa geopolitik, data inflasi lebih lanjut, serta laju pertumbuhan ekonomi akan menjadi faktor krusial dalam membentuk kebijakan Fed ke depan. Kebijakan tarif dan imigrasi juga merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi inflasi dan upah.