:strip_icc()/kly-media-production/medias/3546286/original/004546200_1629449459-Warren_Buffet.jpg)
Warren Buffett resmi mengakhiri masa jabatannya selama enam dekade sebagai Chief Executive Officer Berkshire Hathaway pada 1 Januari 2026, menyerahkan kepemimpinan konglomerat senilai $1 triliun tersebut kepada Greg Abel. Pergantian kepemimpinan ini segera memicu koreksi pada harga saham perusahaan, dengan saham Kelas B Berkshire Hathaway jatuh 4% setelah pengumuman suksesi pada Mei 2025. Pada hari terakhir Buffett menjabat, saham Kelas A sedikit menurun 0,10% menjadi $754.800 dan saham Kelas B turun 0,21% menjadi $502,65, sementara indeks S&P 500 mencatat penurunan 0,70% pada hari yang sama, menunjukkan sentimen pasar yang berhati-hati terhadap era pasca-Buffett. Sepanjang tahun 2025, saham Berkshire Hathaway tertinggal dari kinerja S&P 500, sebuah fenomena yang oleh beberapa analis disebut sebagai "diskon suksesi".
Langkah ini menandai transisi kepemimpinan paling signifikan dalam sejarah Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan yang dibentuk Buffett dari produsen tekstil yang kesulitan menjadi raksasa global dengan kepemilikan mulai dari asuransi (Geico), kereta api (BNSF Railway), energi (Berkshire Hathaway Energy), hingga merek konsumen seperti Dairy Queen. Di bawah kepemimpinan Buffett, investor Berkshire menikmati pengembalian yang luar biasa sekitar 6.100.000% sejak 1965, jauh melampaui pengembalian S&P 500 yang sekitar 46.000% dalam periode yang sama, termasuk dividen. Meskipun Buffett, yang kini berusia 95 tahun, akan tetap menjabat sebagai ketua dewan dan terus bekerja dari kantor pusat Berkshire di Omaha, keputusan operasional harian akan berada di tangan Greg Abel.
Penurunan harga saham sejak pengumuman transisi mencerminkan kekhawatiran pasar mengenai kemampuan Berkshire untuk mempertahankan keunggulan uniknya tanpa kehadiran dan kemampuan alokasi modal Buffett yang tak tertandingi. Sepanjang tahun 2025, saham Berkshire naik lebih dari 11% secara keseluruhan, namun mengakhiri tahun lebih rendah dari puncaknya pada Mei saat pengumuman suksesi. Kekhawatiran investor semakin diperparah dengan kepergian Todd Combs, salah satu manajer investasi terkemuka Berkshire, ke JPMorgan pada bulan sebelumnya, menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang akan mengawasi portofolio ekuitas perusahaan senilai $300 miliar. Doug Kass, presiden Seabreeze Partners, menyatakan bahwa perusahaan "kemungkinan besar – pada waktunya – akan kehilangan valuasi premiumnya" tanpa Buffett di pucuk pimpinan.
Di sisi lain, banyak analis dan pejabat eksekutif menyatakan keyakinan terhadap kemampuan Abel untuk melanjutkan warisan Buffett. Greg Abel, 63, seorang akuntan kelahiran Kanada, telah bergabung dengan Berkshire sejak tahun 2000 dan secara efektif mengelola sebagian besar bisnis non-asuransi Berkshire selama beberapa tahun terakhir. Buffett sendiri telah menegaskan kepercayaan penuhnya pada Abel, menyatakan, "Saya lebih suka Greg yang mengelola uang saya daripada penasihat investasi top mana pun atau CEO top mana pun di Amerika Serikat". Abel juga telah menyatakan komitmennya untuk mempertahankan model desentralisasi Berkshire dan filosofi investasi yang dibangun oleh Buffett.
Implikasi ke depan bagi Berkshire Hathaway berada di bawah pengawasan ketat, terutama terkait alokasi modal. Abel mewarisi cadangan kas yang besar, mencapai sekitar $382 miliar pada kuartal ketiga tahun 2025, yang memberikan fleksibilitas luar biasa untuk investasi oportunistik dan akuisisi strategis. Pasar akan mengamati dengan cermat bagaimana Abel menggunakan "gudang perang" ini, terutama dalam hal akuisisi besar atau potensi pertimbangan pembayaran dividen, kebijakan yang secara historis dihindari Buffett untuk menginvestasikan kembali keuntungan. Cathy Seifert, analis CFRA Research, mengatakan wajar bagi Abel untuk membuat beberapa perubahan dalam cara Berkshire dijalankan, dengan mengambil pendekatan kepemimpinan yang lebih tradisional yang lebih masuk akal untuk perusahaan dengan hampir 400.000 karyawan. Meskipun ada sinyal mengenai perubahan struktural dan penambahan lapisan pengawasan pada beberapa anak perusahaan, para analis memprediksi keberlanjutan dalam jangka pendek. Namun, era pasca-Buffett akan menjadi ujian nyata apakah Berkshire dapat mempertahankan budaya khasnya dan kinerja superior tanpa sosok yang mendefinisikannya selama lebih dari setengah abad.