Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pasar Saham Negara Berkembang Diproyeksikan Melonjak Sepanjang 2025

2025-12-26 | 18:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T11:05:01Z
Ruang Iklan

Pasar Saham Negara Berkembang Diproyeksikan Melonjak Sepanjang 2025

Pasar saham negara berkembang secara mengejutkan mencatatkan kinerja cemerlang sepanjang tahun 2025, dengan Indeks MSCI Emerging Markets melonjak sekitar 30% sejak awal tahun, mengungguli pasar maju dan menempatkannya pada jalur untuk mencatat tahun terbaiknya sejak 2017. Kenaikan signifikan ini didorong oleh pergeseran kebijakan, inisiatif spesifik kawasan, fundamental ekonomi yang menguat, serta arus modal yang kembali mengalir ke aset berisiko di tengah melemahnya dolar AS dan optimisme seputar teknologi kecerdasan buatan (AI).

Pada awal 2025, banyak analis memiliki pandangan yang lebih berhati-hati terhadap pasar negara berkembang, terutama karena kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat, termasuk potensi peningkatan tarif. Namun, pasar menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Indeks acuan di beberapa negara berkembang mencatat lonjakan yang jauh melampaui rata-rata. Yunani, misalnya, melihat indeks komposit Athena melonjak hampir 44% sepanjang 2025. Chili dan Republik Ceko masing-masing naik sekitar 50,8%, sementara indeks BET Rumania meningkat lebih dari 42%. Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan meroket 71%, dengan Taiwan's Taiex Index naik sekitar 22%, didorong oleh permintaan chip semikonduktor terkait AI. Bahkan saham-saham di China, yang sebelumnya tertekan, menuju tahun terkuatnya sejak 2020 berkat antusiasme AI.

Kinerja ini menandai "tahun perubahan" bagi pasar negara berkembang, menurut Varun Laijawalla, Manajer Portofolio di Ninety One. Salah satu pendorong utamanya adalah pelemahan dolar AS, yang meningkatkan daya tarik aset negara berkembang bagi investor berbasis dolar. Arus modal asing menunjukkan pola selektif, namun pasar berkembang menjadi salah satu tujuan dengan arus masuk signifikan sepanjang tahun berjalan. Bank Indonesia mencatat, pada pekan terakhir Desember 2025 saja, aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik Indonesia mencapai Rp3,98 triliun, dengan beli neto signifikan di pasar saham.

Selain itu, fundamental ekonomi yang membaik di beberapa negara berkembang turut mendukung. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang menjadi 4,1% pada Juli 2025, dari sebelumnya 4%, didorong aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan pada paruh pertama tahun ini dan adanya pelonggaran tarif dari AS bagi mitra dagangnya, termasuk China. Kebijakan pelonggaran suku bunga oleh bank sentral di banyak negara berkembang juga berkontribusi pada dorongan ini.

Namun, prospek ke depan tidak lepas dari tantangan. Meskipun Goldman Sachs Research memproyeksikan saham pasar berkembang akan memberikan pengembalian sekitar 16% pada tahun 2026, mencatat bahwa beberapa faktor pendorong tahun 2025, seperti ketahanan ekspor China, pelemahan dolar AS, dan manfaat ekonomi dari penurunan harga komoditas, akan berulang. Kamakshya Trivedi, kepala strategi valuta asing dan pasar negara berkembang di Goldman Sachs, mengakui bahwa kinerja tahun 2025 menetapkan standar yang sangat tinggi untuk ditiru. Kekhawatiran mengenai ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, potensi penurunan lebih lanjut di pasar properti China, serta kemungkinan volatilitas pasar keuangan tetap membayangi. Meskipun terjadi pelonggaran tarif antara AS dan China, ketidakpastian perdagangan global masih tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2025 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang pada 2025 dan 2026, dengan risiko yang masih sangat condong ke sisi negatif.

Meskipun demikian, para ahli optimistis bahwa momentum ini dapat berlanjut. Jonathan Armitage, Kepala Investasi Colonial First State yang berbasis di Australia, mengungkap bahwa fokus baru pada teknologi China telah memperkuat prospek saham pasar negara berkembang hingga 2026. Zhikai Chen, Kepala Saham Asia dan Pasar Berkembang Global di BNP Paribas Asset Management, menyatakan bahwa Asia akan menjadi rantai pasok global untuk belanja modal AI, menjadi faktor kuat di balik kinerja unggul yang terlihat di pasar berkembang. Ia juga mencatat adanya realokasi portofolio investor global, dengan pasar berkembang menjadi salah satu tujuan arus masuk signifikan. Keragaman geografis di pasar negara berkembang diharapkan terus memberikan keseimbangan pada alokasi portofolio, terutama karena kondisi makroekonomi membaik di negara-negara berkembang.