
Pemerintah Indonesia menyambut baik investasi senilai US$100 juta, atau sekitar Rp 1,6 triliun, dari Tiongkok untuk pembangunan pabrik hilirisasi perkebunan kelapa di Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek ini diharapkan akan selesai pada pertengahan tahun 2026 dan diperkirakan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyatakan bahwa pembangunan pabrik ini akan mengolah sekitar 500 juta butir kelapa setiap tahunnya. Investasi ini merupakan kolaborasi antara konsorsium perusahaan Tiongkok, termasuk Zhejiang FreeNow Food Co. Ltd yang merupakan produsen turunan kelapa terbesar di Tiongkok, dengan perusahaan Indonesia dan Tiongkok. Fase pertama pembangunan proyek ini dipastikan rampung pada akhir tahun 2025.
Rosan menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul setelah melihat banyaknya kelapa Indonesia yang diekspor ke Tiongkok dalam bentuk mentah. Dengan adanya pabrik hilirisasi di dalam negeri, harga kelapa di tingkat petani diharapkan dapat meningkat karena tidak perlu lagi memperhitungkan biaya logistik pengiriman kelapa dari Indonesia ke Tiongkok. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi hingga 8%, di mana hilirisasi saat ini berkontribusi hingga 30% dari total nilai investasi yang masuk ke Indonesia.
Morowali sendiri telah berkembang menjadi pusat penting dalam industri nikel global, dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi salah satu kawasan industri strategis yang menarik investasi besar, termasuk dari Tiongkok. Total investasi di kawasan IMIP telah mencapai puluhan miliar dolar AS. Investasi Tiongkok telah memainkan peran besar dalam pengembangan industri nikel di Morowali, dengan perusahaan seperti Tsingshan Group dan GEM menjadi pemain kunci. Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, juga menekankan bahwa Tiongkok adalah salah satu negara yang paling siap untuk berinvestasi dalam hilirisasi di Indonesia.