:strip_icc()/kly-media-production/medias/5081848/original/041923500_1736225351-PABRIK.jpg)
PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU), perusahaan industri pulp yang beroperasi di Sumatera Utara, kini mayoritas sahamnya dipegang oleh Allied Hill Limited, sebuah perusahaan investasi yang berbasis di Hong Kong. Per akhir tahun 2025, Allied Hill Limited menguasai 92,54 persen saham PT Toba Pulp Lestari, sementara sisa 7,46 persen dimiliki oleh publik. Allied Hill Limited sendiri merupakan entitas holding yang sepenuhnya dimiliki oleh Everpro Investments Limited, yang dikendalikan oleh Joseph Oetomo, namun masih terafiliasi dengan Sukanto Tanoto melalui Royal Golden Eagle (RGE).
Pendiri awal perusahaan ini adalah Sukanto Tanoto, seorang pengusaha nasional terkemuka asal Indonesia. Lahir di Belawan, Medan, pada 25 Desember 1949, Sukanto Tanoto dikenal sebagai pendiri dan Chairman Royal Golden Eagle (RGE), sebuah grup perusahaan multinasional yang sebelumnya dikenal dengan nama Raja Garuda Mas (RGM). RGE, yang didirikan pada tahun 1973, bergerak di berbagai sektor manufaktur berbasis sumber daya alam, termasuk pulp dan kertas melalui APRIL dan Asia Symbol, kelapa sawit melalui Asian Agri dan Apical, serat viscose melalui Sateri, selulosa khusus melalui Bracell, serta pengembangan sumber daya energi melalui Pacific Oil & Gas. Perjalanan bisnis Sukanto Tanoto dimulai pada tahun 1967 sebagai pemasok suku cadang dan kontraktor jasa konstruksi untuk industri minyak.
PT Toba Pulp Lestari Tbk sendiri didirikan pada 26 April 1983 dengan nama PT Inti Indorayon Utama Tbk (INRU) dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada 1 April 1989. Perusahaan ini melantai di bursa dengan penawaran umum perdana (IPO) pada 16 Mei 1990, menggunakan kode saham INRU yang masih digunakan hingga saat ini. Pada Agustus 2001, perusahaan ini resmi berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk. Sepanjang sejarahnya, PT Toba Pulp Lestari, yang pabriknya berlokasi di Desa Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, sering kali diwarnai kontroversi terkait isu lingkungan dan konflik agraria dengan masyarakat lokal, termasuk tuduhan pencemaran, deforestasi, dan perampasan tanah. Isu-isu ini bahkan menyebabkan penghentian sementara operasional pabrik pada tahun 1999 oleh Presiden B.J. Habibie dan penutupan kembali oleh Presiden Abdurrahman Wahid, meskipun kemudian dibuka lagi dengan syarat menghentikan produksi rayon. Baru-baru ini, PT Toba Pulp Lestari kembali menjadi sorotan publik setelah dikaitkan dengan bencana banjir dan longsor di Sumatera, sebuah tuduhan yang dibantah tegas oleh perusahaan. Sebelumnya, pemegang saham utama perusahaan adalah Pinnacle Company Pte. Ltd. hingga akhir 2021, sebelum beralih ke Allied Hill Limited.