
PT Astra International Tbk (ASII) memberikan suntikan modal sebesar Rp 3 triliun kepada PT Bank Permata Tbk (BNLI) pada tahun 2017. Keputusan ini diambil menyusul kerugian besar yang diderita Bank Permata sepanjang tahun 2016, yang mencapai Rp 6,48 triliun. Suntikan modal ini merupakan bagian dari komitmen Astra sebagai salah satu pemegang saham utama Bank Permata untuk memperkuat kondisi finansial dan rasio kecukupan modal (CAR) bank tersebut.
Kerugian signifikan yang dialami Bank Permata pada 2016 merupakan yang terbesar dalam sejarah perusahaan, berbanding terbalik dengan laba Rp 247,1 miliar yang dicatat pada tahun 2015. Penurunan kinerja ini terutama disebabkan oleh tingginya rasio kredit bermasalah (NPL) dan peningkatan beban pencadangan yang signifikan, mencapai Rp 12,1 triliun atau naik sekitar 243 persen secara tahunan. NPL gross Bank Permata pada akhir 2016 mencapai 8,83 persen, naik drastis dari 2,74 persen pada periode yang sama tahun 2015.
Sebelum suntikan modal Rp 3 triliun dari Astra, Bank Permata telah menerima tambahan modal sebesar Rp 5,5 triliun melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue pada tahun 2016. Dengan tambahan modal pada tahun 2017, Direktur Independen Astra International sekaligus Wakil Komisaris Utama Bank Permata, Gunawan Geniusahardja, menyatakan harapannya agar rasio kecukupan modal (CAR) Bank Permata dapat bertahan pada posisi 16 persen dan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) tetap di bawah 80 persen. Ini diharapkan dapat membuat posisi Bank Permata jauh lebih baik dan mampu meredam risiko keuangan yang mungkin muncul.
Sebagai pemegang 44,56 persen saham Bank Permata kala itu, PT Astra International Tbk memiliki komitmen jangka menengah dan panjang terhadap keberlangsungan bank. Standard Chartered, yang juga memiliki porsi saham setara, turut mendukung langkah-langkah peningkatan kinerja. Upaya pemulihan Bank Permata mulai menunjukkan hasil positif. Tercatat pada Januari 2017, Bank Permata berhasil membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 136,5 miliar, yang menjadi indikasi awal normalnya kembali kondisi keuangan bank.
Seiring berjalannya waktu, kepemilikan saham mayoritas Bank Permata oleh Astra International dan Standard Chartered kemudian beralih ke Bangkok Bank Public Company Limited melalui transaksi akuisisi yang diselesaikan pada Mei 2020. Meskipun demikian, suntikan modal dari Astra pada 2017 menjadi langkah krusial dalam menstabilkan Bank Permata pasca-kerugian besar.