Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ari Askhara: Dari Mantan Bos Garuda Menuju Nakhoda Baru HUMI

2026-01-15 | 15:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T08:01:05Z
Ruang Iklan

Ari Askhara: Dari Mantan Bos Garuda Menuju Nakhoda Baru HUMI

I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, yang dikenal luas sebagai Ari Askhara, resmi ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI), menandai kembalinya ke puncak pimpinan korporasi setelah sebelumnya terdepak dari posisi Direktur Utama Garuda Indonesia akibat skandal. Penunjukan ini diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Rabu, 14 Januari 2026, di Mangkuluhur City Tower One, Jakarta, di mana ia menggantikan Tirta Hidayat sebagai pucuk pimpinan emiten jasa transportasi energi dan infrastruktur maritim tersebut.

Keputusan strategis ini diambil manajemen HUMI sebagai bagian dari upaya penyegaran organisasi dan penguatan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG) untuk menghadapi dinamika industri maritim dan logistik energi yang semakin kompleks di tahun 2026. Ari Askhara sendiri menyatakan komitmennya untuk membawa HUMI menuju pertumbuhan pendapatan yang sehat melalui sinergi grup, pengembangan armada, serta diversifikasi usaha berkelanjutan yang berbasis pada logistik maritim dan energi terintegrasi nasional, bukan hanya sekadar sebagai pemilik kapal. Ia juga menekankan pentingnya redefinisi efisiensi biaya operasional, pendanaan, dan keuangan, dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kualitas layanan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Rekam jejak Ari Askhara di dunia korporasi nasional memang penuh dinamika. Sebelum memimpin HUMI, ia menjabat sebagai Chief Executive Officer PT GTS Internasional Tbk sejak April 2025 dan sebelumnya sempat memimpin PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) yang terlibat dalam proyek transportasi bawah tanah di Bali pada Januari 2024 hingga April 2025, sebelum mengundurkan diri.

Namun, publik lebih mengenalnya sebagai mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), posisi yang diembannya dari September 2018 hingga Desember 2019. Masa kepemimpinannya di maskapai pelat merah tersebut diwarnai serangkaian kontroversi. Salah satu yang paling menonjol adalah kasus manipulasi laporan keuangan tahun 2018, di mana Garuda Indonesia mencatatkan laba sebesar US$809.000 setelah sebelumnya merugi, sebuah langkah yang dinilai tidak sesuai dengan standar pelaporan dan akuntansi oleh Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Puncak kontroversi terjadi pada akhir tahun 2019 ketika Ari Askhara dicopot dari jabatannya oleh Menteri BUMN saat itu, Erick Thohir, karena terlibat dalam kasus penyelundupan suku cadang motor Harley-Davidson bekas dan dua unit sepeda Brompton menggunakan pesawat Airbus A330-900neo milik Garuda Indonesia. Kasus ini kemudian berujung pada penetapan Ari Askhara sebagai tersangka pada September 2020 dan vonis satu tahun penjara dengan masa percobaan 20 bulan oleh Pengadilan Negeri Tangerang pada Juni 2021, meskipun ia tidak menjalani hukuman penjara. Kerugian negara dari kasus kepabeanan ini diperkirakan mencapai Rp 532 juta hingga Rp 1,5 miliar.

Para pengamat menilai, penunjukan Ari Askhara di HUMI menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memperkuat manajemen dan memperluas jaringan bisnis di sektor maritim dan logistik energi. Kembalinya Askhara ke jajaran pimpinan perusahaan besar membuka peluang baru bagi HUMI sekaligus menjadi momentum pembuktian bagi dirinya di industri nasional, khususnya di sektor maritim. Meskipun demikian, dengan latar belakang kontroversi yang pernah menyertai, langkah Ari Askhara untuk menegaskan komitmen pada Good Corporate Governance (GCG) dan integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) akan menjadi sorotan ketat pasar dan investor, mengingat pentingnya reputasi dan integritas dalam menjaga kepercayaan publik dan nilai saham perseroan.