:strip_icc()/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)
Volume transaksi harian pasar modal Indonesia melonjak signifikan, menembus angka Rp18 triliun per hari pada penutupan perdagangan tahun 2025, melampaui capaian bursa Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman pada 30 Desember 2025 menyampaikan bahwa rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) ini jauh melampaui target yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp13,3 triliun untuk tahun 2025. Capaian ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua di ASEAN dalam hal likuiditas, hanya terpaut tipis dari Thailand, setelah beberapa tahun sebelumnya masih memiliki jarak yang signifikan.
Peningkatan aktivitas ini tidak hanya ditopang oleh perdagangan saham, melainkan juga didorong oleh instrumen lain seperti obligasi dengan nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp6,5 triliun, serta pengembangan perdagangan karbon yang telah berlangsung selama dua tahun dengan nilai transaksi mencapai kurang lebih Rp30 miliar. Selain itu, kapitalisasi pasar BEI juga mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, menembus sekitar Rp16.000 triliun pada tahun 2025, menempatkan Indonesia sebagai yang terbesar di Asia dan masuk dalam jajaran 20 besar dunia. Angka ini setara dengan sekitar 70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran fundamental yang mengubah peta likuiditas bursa domestik, di mana investor ritel domestik kini menjadi penopang utama stabilitas pasar. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 Desember 2025 menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus angka psikologis 20 juta, tepatnya 20.129.679 investor, mencatat pertumbuhan impresif sebesar 35% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang sebanyak 14,87 juta investor. Secara khusus, jumlah investor saham meningkat lebih dari 2,2 juta menjadi 8,59 juta investor. Dominasi investor domestik sangat konsisten sepanjang tahun 2025, menguasai 77% dari total nilai transaksi harian per 24 Desember 2025. Mayoritas investor individu ini didominasi generasi muda berusia di bawah 40 tahun, mencapai lebih dari 79 persen dari total Single Investor Identification (SID).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja positif pasar modal Indonesia sepanjang 2025, meskipun diwarnai ketidakpastian global, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi di beberapa negara. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 22,10% secara year-to-date (YtD) dan ditutup pada level 8.644,26 pada 29 Desember 2025, mencatatkan rekor All Time High (ATH) sebanyak 24 kali. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyatakan bahwa ini menjadi tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia.
Stabilitas ekonomi domestik menjadi salah satu faktor kunci yang menopang optimisme investor. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) didorong oleh kehadiran emiten baru, kenaikan harga komoditas (terutama emas), serta maraknya aksi korporasi. OJK juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan penting sepanjang 2025, termasuk Peraturan OJK (POJK) Nomor 1 Tahun 2025 tentang derivatif keuangan berbasis efek, POJK Nomor 9/2025 terkait dematerialisasi efek ekuitas, dan POJK Nomor 15/2025 mengenai penilaian reksa dana dan manajer investasi berbasis rating. Regulasi ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan kepastian hukum, serta memperkuat tata kelola pasar modal.
Meski demikian, pasar modal tetap menghadapi tantangan signifikan dari volatilitas global akibat ketidakpastian suku bunga dan konflik geopolitik. OJK mendorong investor untuk tetap disiplin dan memperhatikan manajemen risiko. Pada sisi lain, OJK juga secara aktif memberantas praktik manipulasi pasar dengan melakukan pemeriksaan teknis dan khusus pada dugaan pelanggaran transaksi saham. Sepanjang 2025, OJK telah menjatuhkan 120 sanksi administratif dan denda sebesar Rp123,3 miliar untuk kasus pelanggaran.
Menyongsong tahun 2026, BEI menargetkan pertumbuhan dua juta investor baru, RNTH di level Rp15 triliun, dan pencatatan 555 efek baru. OJK memproyeksikan pasar modal Indonesia akan tumbuh stabil, didukung oleh penguatan regulasi, peningkatan kapasitas investor, kolaborasi lintas institusi, dan pengembangan instrumen keuangan berkelanjutan. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, bahkan memproyeksikan IHSG mampu menembus level 10.000 pada tahun 2026, didorong oleh membaiknya perekonomian nasional dan kebijakan pemerintah yang semakin sinkron.