Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IHSG Sepekan Melompat 2,16%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp 16.301 Triliun

2026-01-11 | 00:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T17:20:01Z
Ruang Iklan

IHSG Sepekan Melompat 2,16%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp 16.301 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 2,16% sepanjang pekan perdagangan 5-9 Januari 2026, ditutup pada level 8.936,754 dari 8.748,132 pada pekan sebelumnya. Penguatan ini mendorong kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus angka Rp 16.301 triliun, menandai kinerja awal tahun yang solid bagi pasar modal domestik. Indeks bahkan sempat mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa di 8.944,813 pada 7 Januari dan menembus level psikologis 9.000 secara intraday, mencapai 9.002,92 pada 8 Januari.

Kenaikan impresif ini dipicu oleh kombinasi sentimen positif domestik dan eksternal. Optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia menjadi salah satu pendorong utama, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional berkisar 5,1% hingga 5,3% di tahun 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa Indonesia memasuki tahun 2026 dengan fondasi ekonomi yang kokoh, didukung oleh stabilitas fundamental, konsistensi regulasi, dan peningkatan partisipasi investor domestik.

Arus masuk modal asing (net buy) mencapai Rp 2,56 triliun sepanjang pekan lalu, dengan total net buy investor asing sejak awal tahun 2026 mencapai Rp 3,1 triliun. Bank Indonesia juga mencatat pembelian neto sebesar Rp 1,78 triliun di pasar saham oleh nonresiden pada periode 5-8 Januari 2026. Fenomena "January Effect" juga turut berkontribusi, di mana manajer investasi cenderung menyusun ulang portofolio di awal tahun. Harapan akan pelonggaran kebijakan moneter global, terutama antisipasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika Serikat menyusul penurunan 25 basis poin pada Desember 2025, juga mengarahkan dana asing ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia sendiri telah memberikan sinyal ruang untuk pelonggaran kebijakan lebih lanjut pada tahun 2026.

Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, menegaskan target IHSG menembus 10.000 bukan hal yang mustahil jika didukung fundamental ekonomi yang kuat dan partisipasi investor domestik yang terus meningkat. Ia juga menambahkan bahwa OJK berkomitmen menjaga pasar modal agar tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien. Shan Saeed, Chief Economist IQI Global, melihat pergerakan IHSG di awal tahun sebagai sinyal jelas dari pasar, dengan investor global menangkap kombinasi faktor domestik dan eksternal yang mendukung Indonesia. Ia memprediksi potensi kenaikan pasar sebesar 8% hingga 10% sepanjang tahun 2026, didorong permintaan domestik yang tangguh.

Namun, analis pasar modal Hendra Wardana dari Republik Investor mengingatkan bahwa meskipun arah pergerakan IHSG konstruktif, potensi konsolidasi atau koreksi teknikal akibat aksi ambil untung tetap terbuka. Namun, ia memperkirakan tekanan tersebut bersifat terbatas dan sehat. Volatilitas pasar global, ketegangan geopolitik, pergerakan nilai tukar rupiah, serta fluktuasi harga komoditas global tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati.

Dalam upaya memperkuat pasar modal, OJK fokus pada tiga pilar utama: peningkatan pasokan dengan akselerasi pencatatan perusahaan berpotensi tinggi, penguatan sisi permintaan melalui perluasan basis investor ritel domestik, serta penguatan infrastruktur dan pemangku kepentingan pasar. Sementara itu, Bank Indonesia telah mengganti Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) dengan Indonesia Overnight Index Average (Indonia) sebagai tingkat referensi utama mulai 1 Januari 2026, langkah yang bertujuan meningkatkan kredibilitas dan transparansi mekanisme penetapan harga di pasar keuangan domestik. Peralihan ini mengindikasikan komitmen regulator untuk menciptakan pasar yang lebih tangguh dan adaptif terhadap dinamika ekonomi global.