:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472037/original/090072700_1768306398-Chief_Investment_Officer__CIO__DBS_Hou_Wey_Fook.jpg)
DBS Group merekomendasikan investor untuk mencermati aset riil pada kuartal pertama tahun 2026, di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang moderat dan inflasi yang terkendali, khususnya di Asia. Strategi ini muncul saat bank tersebut memproyeksikan periode "ketahanan terukur" bagi ekonomi Singapura dan lanskap makroekonomi global yang "membengkok tapi tidak patah" pada tahun mendatang.
Bank investasi asal Singapura itu menyoroti real estat, khususnya Singapore Real Estate Investment Trusts (S-REITs), dan emas sebagai komponen kunci portofolio di awal tahun 2026. Analis DBS memperkirakan S-REITs akan memasuki siklus peningkatan pendapatan dua tahunan pada 2026-2027. Hal ini didorong oleh suku bunga domestik yang rendah, dengan Singapore Overnight Rate Average (3M SORA) diperkirakan stabil pada 1,2%–1,3%, jauh di bawah level 2022-2024. Kemampuan REITs untuk merefinansiasi utang yang jatuh tempo dengan biaya lebih murah diperkirakan akan mendorong kenaikan Distribusi per Unit (DPU) sebesar 2,5%, sebuah potensi yang diyakini belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar. Beberapa REITs, seperti CDL Hospitality Trusts dan OUE REIT, bahkan dapat mencatat peningkatan DPU antara 4% hingga 8%. Proyeksi DBS juga menunjukkan potensi kenaikan harga 15% untuk sektor ini karena normalisasi imbal hasil dan manfaat refinansial mulai terwujud.
Di sektor properti residensial Singapura, meskipun volume penjualan diperkirakan menurun pada tahun 2026 karena terbatasnya pasokan proyek baru, minat pembeli tetap kuat untuk proyek-proyek yang berlokasi strategis. DBS memproyeksikan pertumbuhan harga properti tetap berada dalam kisaran +1% hingga +3% untuk tahun 2026, dengan pengembang seperti UOL, GuocoLand, dan City Developments Limited (CDL) menjadi pilihan utama. Sementara itu, real estat komersial juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dengan peluang yang muncul dari proyek-proyek pembangunan kembali perkotaan dan ruang serbaguna (mixed-use spaces). Aset REITs perkantoran di luar negeri, terutama di Australia dan Inggris, diantisipasi akan mempercepat pertumbuhan.
Emas terus menjadi aset yang sangat direkomendasikan DBS sebagai diversifikasi risiko. Bank tersebut mencatat posisi jangka panjang dalam emas telah menghasilkan keuntungan yang kuat sebesar 59,2% hingga November 2025. Analis dari UOB lebih lanjut memproyeksikan harga emas mencapai US$5.000 per ounce pada kuartal keempat 2026, mengukuhkannya sebagai 'safe haven' global di tengah ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan.
Proyeksi makroekonomi DBS untuk Singapura pada tahun 2026 menunjukkan pertumbuhan PDB riil yang moderat sebesar 1,8%, turun dari 4,0% pada tahun 2025, namun masih mendekati potensi pertumbuhan. Inflasi inti diperkirakan rata-rata 1,0% dan inflasi utama 1,2% pada tahun 2026, sejalan dengan perkiraan Otoritas Moneter Singapura (MAS) sebesar 0,5%-1,5%, menandakan tekanan harga yang terkendali. Di Amerika Serikat, meskipun inflasi diprediksi tetap tidak merata dan "lengket", Federal Reserve diperkirakan akan melakukan dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada semester pertama 2026, dengan suku bunga dana federal stabil di 3,5%. Kondisi ini memberikan dukungan bagi aset berisiko.
Strategi investasi DBS secara keseluruhan mengadopsi pendekatan "barbell", menyeimbangkan ekuitas pertumbuhan yang terfokus pada perusahaan inovatif (Innovators, Disruptors, Enablers, Adapters - I.D.E.A.) yang berkembang di dunia berbasis kecerdasan buatan (AI), dengan aset berpendapatan tetap seperti obligasi peringkat investasi berdurasi pendek (1-3 tahun) dan, tentu saja, aset riil. Meskipun terjadi reli signifikan pada saham-saham terkait AI pada tahun-tahun sebelumnya, DBS mengakui potensi koreksi harga namun menegaskan fundamental Big Tech tetap solid karena pengeluaran modal masa depan didanai oleh pendapatan riil, bukan utang.
Analis DBS Daryl Ho menyatakan Asia masih "kurang diinvestasikan" meskipun pasar regional menunjukkan kinerja kuat dan valuasi menarik. Ia melihat peluang "nyata dan jelas" di Asia, terutama di Singapura dengan dividen bank dan REITs sekitar 6%, serta saham teknologi di Tiongkok yang diproyeksikan tumbuh di kisaran 20% untuk FY2026. Namun, risiko geopolitik yang persisten, tantangan tarif ("2Ts" - tarif dan siklus teknologi) yang memengaruhi perdagangan global, serta ketidakpastian seputar kebijakan di AS, tetap menjadi faktor yang perlu dicermati oleh investor sepanjang tahun 2026.