:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
Federal Reserve memulai injeksi likuiditas signifikan sebesar $6,8 miliar ke pasar keuangan Amerika Serikat hari ini, 22 Desember 2025, melalui perjanjian repurchase (repo), menandai operasi penambahan likuiditas pertama sejak 2020 dan secara langsung memicu kenaikan harga Bitcoin yang mencolok di tengah sentimen pasar "risk-on" yang kembali. Langkah ini, yang datang setelah serangkaian suntikan likuiditas yang lebih besar dalam beberapa pekan terakhir dan pengakhiran resmi pengetatan kuantitatif (quantitative tightening/QT) oleh The Fed pada 1 Desember 2025, menegaskan pergeseran kebijakan moneter menuju stance yang lebih akomodatif. Bitcoin telah menunjukkan respons bullish terhadap pergeseran ini, dengan analis mengaitkan lonjakan nilai mata uang digital tersebut dengan kondisi likuiditas yang membaik.
Pergerakan Federal Reserve pada akhir 2025 ini merupakan titik balik penting setelah periode pengetatan moneter yang berkepanjangan. Pada awal Desember 2025, The Fed menyuntikkan lebih dari $18 miliar likuiditas repo, yang menjadi ekspansi likuiditas paling menonjol sejak tahun 2020. Selain itu, pada 2 Desember, The Fed juga mengumumkan injeksi likuiditas $13,5 miliar melalui perjanjian repo semalam, yang dianggap sebagai sinyal positif oleh para pedagang dan berkontribusi pada reli Bitcoin. Kebijakan ini juga didahului oleh pemotongan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Desember, penurunan suku bunga ketiga sepanjang 2025, menetapkan kisaran target menjadi 3,5%-3,75%. Kebijakan-kebijakan ini secara kolektif mengakhiri era pengetatan kuantitatif yang telah berlangsung selama tiga tahun, di mana The Fed secara sistematis mengurangi neraca keuangannya.
Secara historis, suntikan likuiditas dari bank sentral cenderung memicu reli aset-aset berisiko, termasuk mata uang kripto dan saham. Misalnya, setelah suntikan likuiditas serupa pada akhir 2020, harga Bitcoin melonjak lebih dari 300% dalam beberapa bulan berikutnya. Analis pasar dan tokoh industri, seperti Arthur Hayes, pendiri bersama BitMEX dan CIO Maelstrom Fund, berpendapat bahwa program "Reserve Management Purchase" (RMP) yang dimulai The Fed pada 12 Desember 2025, dengan pembelian surat utang Treasury jangka pendek senilai $40 miliar setiap bulan, secara efektif berfungsi sebagai bentuk pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE). Hayes menyatakan bahwa program ini memperluas pasokan uang dan secara tidak langsung menguntungkan aset-aset langka seperti Bitcoin di lingkungan ekspansi moneter.
Meskipun injeksi likuiditas terbaru ini relatif kecil dibandingkan dengan program QE masa lalu yang melibatkan triliunan dolar, sinyalnya sangat kuat. Investor melihat pergerakan ini sebagai indikasi kesediaan The Fed untuk menstabilkan pasar pendanaan dan mencegah tekanan menyebar, terutama saat cadangan bank mencapai level terendah dalam beberapa tahun terakhir di akhir Oktober dan awal November. Pergeseran ini diharapkan dapat mengurangi friksi keuangan dan mendorong penggunaan leverage, yang secara konsisten mengangkat harga aset.
Dampak jangka panjang dari pergeseran kebijakan moneter The Fed terhadap Bitcoin masih menjadi bahan perdebatan, tetapi banyak analis mempertahankan pandangan optimistis. Beberapa memperkirakan Bitcoin berpotensi mencapai $100.000 hingga $120.000 pada kuartal pertama 2026, atau bahkan menembus ambang $200.000 pada Maret 2026, jika pasar sepenuhnya mengakui implikasi inflasioner dari RMP sebagai bentuk QE. Namun, risiko tetap ada, termasuk potensi kebijakan The Fed yang kondisional, ketidakpastian regulasi, dan volatilitas makroekonomi di tengah tingkat utang yang tinggi dan ketegangan geopolitik. Meskipun Bitcoin telah menunjukkan ketahanan di atas level support kunci di sekitar $85.000-$86.000 setelah puncak $94.640 pada 9 Desember, pasar kripto tetap sensitif terhadap data ekonomi dan kebijakan bank sentral. Kelanjutan panduan dovish yang konsisten, arus masuk ETF yang lebih kuat, dan kejutan makroekonomi yang positif akan menjadi faktor penentu untuk reli yang berkelanjutan.