Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kemenperin Pastikan Relokasi Pabrik ke Jawa Tengah Tak Ubah Status Investasi di Indonesia

2025-11-28 | 01:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-27T18:06:02Z
Ruang Iklan

Kemenperin Pastikan Relokasi Pabrik ke Jawa Tengah Tak Ubah Status Investasi di Indonesia

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin), menyatakan tidak mempermasalahkan fenomena relokasi pabrik dari beberapa provinsi ke Jawa Tengah. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan bahwa selama industri tersebut masih beroperasi dan berproduksi di Indonesia, pihaknya akan terus memberikan dukungan. Pernyataan ini sejalan dengan prinsip Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Menurut Febri, Kemenperin menyerahkan sepenuhnya kepada pihak industri untuk menentukan lokasi produksi yang paling optimal berdasarkan pertimbangan mereka. Relokasi pabrik ini, termasuk produsen merek sepatu global seperti Nike dan Adidas yang sebelumnya berlokasi di Tangerang, Banten, kini memilih Jawa Tengah sebagai tujuan baru.

Fenomena perpindahan pabrik, khususnya dari Jawa Barat dan Banten, ke Jawa Tengah telah menjadi sorotan. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sanny Iskandar menjelaskan bahwa tingginya upah minimum di wilayah seperti Bekasi dan Karawang, Jawa Barat, menjadi salah satu alasan utama relokasi. Upah minimum di beberapa daerah di Jawa Tengah disebut masih cukup rendah, bahkan bisa dua kali lipat lebih rendah dibandingkan di Jawa Barat. Selain itu, kondisi sosial-politik yang lebih stabil, loyalitas pekerja yang tinggi, dan tingkat demonstrasi yang rendah di Jawa Tengah turut menjadi faktor pertimbangan bagi perusahaan.

Pakar Ketenagakerjaan UGM, Tadjudin Noer Efendi, juga menyoroti bahwa banyak perusahaan tekstil tidak mampu lagi membayar upah pekerja di Jawa Barat, sehingga memilih Jawa Tengah yang menawarkan biaya upah lebih murah. Data menunjukkan bahwa upah minimum di Jawa Tengah berkisar antara Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per bulan, jauh berbeda dengan UMP di Tangerang, DKI Jakarta, dan Karawang yang berkisar Rp3,5 juta–Rp3,8 juta, atau bahkan di atas Rp5 juta di Karawang.

Staf Khusus Kementerian Investasi/BKPM, M Pradana Indraputra, melihat banyaknya relokasi pabrik ke Jawa Tengah tidak lepas dari kemudahan akses investasi di provinsi tersebut. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, sebelumnya juga menyatakan bahwa tingginya jumlah pabrik yang pindah ke wilayahnya adalah bukti kepercayaan investor terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang perlu dijaga. Pada periode Januari-September 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp66,13 triliun, atau 84,42 persen dari target.

Febri menambahkan bahwa relokasi ini juga merupakan bagian dari dinamika bisnis yang melibatkan pertimbangan kapasitas, biaya tenaga kerja, dan keberlanjutan usaha. Kemenperin akan terus memastikan agar ekosistem industri di level nasional tetap tumbuh. Hal ini juga didukung oleh pemerintah daerah yang berupaya menjaga keseimbangan antara kenaikan upah dan kemampuan perusahaan untuk membayarnya, salah satunya dengan menjaga inflasi daerah.

Beberapa daerah di Jawa Tengah yang menjadi tujuan relokasi pabrik antara lain Batang, Kendal, Jepara, Tegal, Brebes, Pekalongan, dan Pemalang. Fenomena ini menunjukkan adanya strategi perusahaan untuk mengoptimalkan biaya produksi di tengah persaingan industri.